Bagai Mentari

Gemilang indah kilaunya
Pancarkan sinar menawan hati
Terbilang mudah kiranya
Tuk mengucap takjub saat memandangi
Cerahnya langit berhias awan dan mentari
Oh, Sungguh tenangkan hati

Tahukah mentari?
Tak hanya indah gemilau
Hangatnya mampu cairkan diri yang membeku
Oleh setumpuk ingatan masa lalu
Serta penyesalan tiada akhir dalam diri

Tahukah penyesalan?
Teorema dasarnya ialah kesalahan
Tak peduli besar ataupun kecil
Bahkan waktu tak dapat menghapus jarak ingatan
Teguhkan hati tuk belajar dari kesalahan
Saat ini kualitas dirilah yang membedakan

Ikhlas menerima, sikap terbaik kurasa
Tak menuntut diri tuk lakukan hal sempurna
Manusia bisa saja terjatuh
Lagi dan lagi tapi ingat
Kualitas manusia terlihat dari posisi terjatuhnya
Ia yang belajar tak kan jatuh dalam posisi yang sama
Ia akan berlatih tuk berdiri walau tertatih
Berusaha sekuat diri tuk tidak mengulangi

Terima ataupun tidak
Kesalahan tak bisa dihindari
Hanya bisa diperbaiki dan dipelajari
Agar bisa memposisikan diri kembali
Apalagi yang di khawatirkan?
Apalagi alasan tuk rasa sesal tiada akhir?
Tentu saja, lingkungan.

Tak perlu khawatir menyiksa diri
Tak usah tumbuhkan sesal dalam diri
Kau tahu mentari?
Ia sangat menyayangi bumi
Rela sinari bumi agar bisa menjalani hari
Jarak bukanlah alibi tuk tak peduli
Ia sadar dan tahu posisi
Bila dekat hanya akan menyakiti
Pandangi, lindungi, walau tak sedekat nadi
Jarak tak akan menghalangi

Penulis : Andini (Club Writer)