Bagaimana Jika Cinta Dibuktikan Secara Matematis? Berikut Pemaparannya Menurut Serial Animasi Bertajuk “Science Fall in Love, So I Tried to Prove It”

Sebelum teman-teman mengeluarkan kalimat prasangka aneh, penulis akan mengingatkan bahwa tulisan ini lahir bukan untuk menebarkan virus wibu atau otaku anime, tetapi untuk membahas hal-hal matematis yang terdapat dalam serial animasi jepang berjudul asli Rikei ga Koi ni Ochita no de Shoumei shitemita.

Dahulu kita selalu berpikir, “Gunanya matematika untuk sehari-hari itu apa, sih?” ketika tengah mempelajari matematika yang semakin sulit setiap kali menyelaminya. Namun begitu kedua kaki melangkah keluar dari gerbang SMA, kita disambut oleh segudang wawasan mengenai berbagai macam profesi yang dilatarbelakangi oleh matematika. Sejak saat itu, kita mengetahui akan pentingnya peran matematika dalam kehidupan. Saking pentingnya, beberapa kasus dapat dipecahkan dengan menerapkan matematika sebagai kunci penyelesaian masalah. Tak jarang kasus yang kedengarannya begitu sepele di telinga orang awam dijadikan masalah yang akan diselesaikan secara matematis. Misalnya menentukan rute cerita terideal dalam bermain game visual novel agar mencapai ending yang sesungguhnya, membuat jadwal suster bekerja di rumah sakit, atau meneliti tentang perasaan cinta seseorang seperti yang diceritakan dalam anime yang biasa disingkat dengan nama RikeKoi ini.

(By the way, kalau kalian tahu Harvest Moon : Back to Nature, kira-kira mirip seperti itulah game visual novel)

“Tapi kenapa meneliti tentang perasaan cinta?”, mungkin itu pertanyaan kalian saat ini. Untuk itu, mari kita ta’arufan terlebih dahulu dengan serial anime yang rilis pada 10 Januari 2020 lalu. Ide untuk meneliti tentang perasaan cinta ini berawal dari karakter utama wanita dalam serial RikeKoi bernama Ayame Himuro yang secara tiba-tiba menyatakan cinta kepada rekan sesama ilmuwan di Laboratorium Penelitian Ikeda bernama Shinya Yukimura. Keduanya paham apa itu cinta, namun sebagai orang yang sama-sama maniak sains sejak kecil, rasanya tidak terlihat seperti ilmuwan jika Himuro tidak memberikan bukti empiris bahwa dirinya mencintai Yukimura. Oleh karena itu, mereka berdua berencana melakukan penelitian untuk membuktikan apakah benar Himuro mencintai Yukimura dan apakah sebaliknya juga begitu. Untuk penelitian ini sendiri, mereka sampai melibatkan empat orang lain yang sama-sama berada di Laboratorium Penelitian Ikeda, lho.

(Orang-orang yang terlibat di penelitian. Sumber : Quinime)

Awalnya, Himuro dan Yukimura membuat hipotesis bahwa jika faktor-faktor yang menyebabkan jatuh cinta pernah dialaminya dan keduanya saling memikirkan satu sama lain, maka artinya mereka saling mencintai. Akibat hipotesis tersebut, munculah sebuah definisi bahwa jika A jatuh cinta pada B, maka A dan B elemen dari orang yang berhubungan dekat. Himuro menyukai Yukimura, maka keduanya berhubungan dekat. Ini membuat kedua ilmuwan itu mulai melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang berhubungan dekat dengan perasaan cinta sebagai landasannya.

Mulanya penelitian ini dimulai dengan objek sebanyak dua orang (yang tidak lain adalah Himuro dan Yukimura) dengan meneliti perasaan cinta berdasarkan detak jantung. Metode yang digunakan untuk mendapatkan nilai detak jantung pun bervariasi, misalnya memojokkan Himuro ke sebuah tembok atau dikenal dengan istilah kabedon selama satu menit, mengangkat dagunya dengan sudut , menggulung lengan baju Himuro dari belakang oleh Yukimura dengan selisih jarak cm, atau memeluk Yukimura selama 10 menit. Perlu diketahui bahwa referensi yang digunakan mereka berdua dalam menentukan variabel bebas untuk penelitian ini adalah komik romansa dan internet dengan sumber yang tidak jelas kevalidannya. Untuk bagian ini, tolong jangan ditiru ya, sahabat.

(Grafik detak jantung Himuro. Sumber : Quinime)

Data yang sudah didapat dari berbagai metode itu dipresentasikan ke dalam sebuah grafik. Cukup mengejutkan bahwa grafik tersebut menunjukkan detak jantung Himuro yang kian meningkat seiring berjalannya penelitian (kecuali bagian akhir karena tiba-tiba saja grafiknya terjun bebas, dan yang menyebabkan itu adalah Himuro yang tertidur sambil bersandar pada tubuh Yukimura). Hanya saja kesimpulan tidak bisa ditarik secepat itu. Kemudian saat seorang senior bernama Ena Ibarada memberitahu tentang variabel kontrol, mereka menyadari bahwa data yang dimiliki saat ini tidak cukup kuat dan banyak untuk membuktikan apakah Himuro mencintai Yukimura atau tidak. Dari sini, dua ilmuwan (yang cerdas tapi bodoh menurut juniornya) itu melibatkan rekan sesama ilmuwan di satu komunitas penelitian untuk mencari nilai variabel bebasnya sebanyak kombinasi dua dari enam orang yang menghasilkan lima belas kali percobaan dengan pasangan berbeda.

Seiring berjalannya episode, variabel bebas yang diperhitungkan dalam penelitian ini kian bertambah. Bukan hanya mengukur detak jantung dengan kabedon dan sebagainya, namun mereka juga mengukur berapa banyak rasa ingin memeluk, memegang tangan, gugup, dan takut itu timbul selama bersama pasangan. Bahkan mereka juga menambahkan rasa ingin mencium pasangan yang dipengaruhi nilai mood, film romantis, meneliti hormon oksitosin dari air ludah, hingga emosi negatif sebagai variabel bebas yang dapat diperhitungkan. Semua itu mereka hitung dengan sebuah alat penghitung yang biasa digunakan pekerja paruh waktu di Jepang dalam bentuk aplikasi smartphone, sehingga data yang dihasilkan dapat berbentuk angka untuk memudahkan dalam pengolahan. Omong-omong, metode yang digunakan untuk mendapatkan data ini adalah kencan dengan waktu ideal yang dihitung dengan menggunakan Travelling Salesman Problem, lho. Intelektual dan anak sains banget, kan? Atau justru menyusahkan?

Data yang sudah didapat dengan terjun langsung ke lapangan itu selanjutnya diolah dengan Exploratory Data Analysis. Ini tidak dijelaskan di dalam anime-nya sendiri, namun melihat meja rapat dipenuhi dengan berlembar-lembar kertas yang berisi grafik dan campuran huruf hiragana, katakana, dan kanji cukup menunjukkan bahwa EDA merupakan salah satu cara mengeksplor data yang diperlihatkan RikeKoi ini. Berdasarkan EDA yang dilakukan, percobaan dengan pasangan Yukimura-Himuro menunjukkan grafik yang naik secara eksponensial, berbeda dengan pasangan lain yang menunjukkan grafik tidak beraturan bahkan cenderung kian menurun (terutama pasangan yang terdiri dari sesama lelaki). Bisa dilihat bukan, bahwa Himuro dan Yukimura saling mencintai bahkan dengan dan tanpa bukti empiris?

(Grafik hasil nge-date. Sumber : Quinime)

Dengan melihat begitu banyak wawasan mengenai profesi yang dilatarbelakangi oleh matematika serta berbagai macam penelitian yang dilakukan oleh orang-orang hebat di luar sana dalam memecahkan permasalahan sehari-hari, juga kombinasi ilmu matematika dengan serial animasi komedi-romantis yang tidak buruk, bukankah kita semakin menyadari bahwa begitu luasnya fungsi matematika dalam kehidupan ini? Bahkan perasaan cinta saja bisa menjadi objek untuk penelitian yang cukup menarik (meskipun RikeKoi tidak secara spesifik menampilkan data penelitian secara detail). Meskipun serial animasi ini tidak mengadaptasi karya Alfred Yamamoto sepenuhnya dikarenakan komiknya masih berjalan hingga sekarang, namun dari data dan hasil eksplor data di atas sudah cukup membuktikan bahwa Himuro mencintai Yukimura juga sebaliknya, bukan? Atau kalian masih membutuhkan banyak data agar tidak asal menyimpulkan, seperti yang dirasakan Yukimura dan Himuro di akhir episode? Yuk, sama-sama kita teliti apakah Himuro dan Yukimura saling mencintai atau tidak. Tulis pembuktiannya di kolom komentar, ya!

 

Ditulis oleh : Laras Julyanti (Club Writer)