Bangkit

Haloo temen-temen,

Gimana nih kondisi kalian saat ini? semoga selalu baik dan berbahagia yaa. Aamiin

By the way, temen temen mungkin sekarang ada yang sedang berusaha dan berjuang untuk masuk perguruan tinggi, kebetulan nih aku punya cerita untuk sharing tentang hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupku selama 3 tahun belakangan ini berjuang untuk masuk perguruan tinggi negeri. Harapanku dari tulisan ini semoga bisa membuat temen temen semua mengambil hal- hal positif untuk dijadikan pelajaran ataupun motivasi tentang tujuan hidup, bangkit, luka, dan perjuangan.

Okeyy langsung aja aku mulai cerita nyaa.

Dimulai 2018, tahun dimana banyak hal yang membingungkan, keraguan hidup, rasa takut terhadap masa depan dan banyak hal hal yang ketika itu memenuhi kepala perihal satu kalimat “Masa depan”. Terlepas saat itu aku dinyatakan sebagai alumni dari sebuah Madrasah Aliyah Negeri di daerahku. Seperti siswa pada umumnya aku berkata dalam hati “AKU INGIN KULIAH”. Rencana pertamaku setelah lulus SLTA adalah gimana caranya aku bisa kuliah. Aku mulai belajar, berusaha, mencoba, dan mulai mempersiapkan langkah awal untuk memulai langkah baru dalam kehidupanku.

Waktu berlalu, yang kuhabiskan dengan belajar dan mengumpulkan informasi tentang seperti apa yang akan aku hadapi nanti, sampai tibalah hari dimana aku mengikuti seleksi pertama untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri yaitu SNMPTN. Seleksi dengan menggunakan nilai rapot selama belajar 3 tahun di SLTA, Alhamdulillah aku menjadi salah satu dari ratusan orang di sekolah ku yang terpilih untuk bisa mengikuti seleksi tersebut. Akhirnya, aku mulai mengumpulkan nilai dan bersemangat untuk memulai langkah awalku dengan hanya memikirkan ambisi semata disertai sedikit rasa sombong sebagai seorang remaja sehingga aku mengambil Program studi Ilmu Komputer di UI dan Teknik elektro di UNTIRTA. Pada saat itu yang aku fikirkan hanyalah “Bagaimana caranya aku bisa dapat PTN Favorit” tanpa melihat kapasitas diriku sampai di batas mana. Akhirnya, penolakan lah yang aku terima, dengan tanda bahwa nama ku tidak Lulus disana. Aku kecewa, marah, sedih, dan iri melihat temanku yang lolos serta ada sedikit rasa takut  “Bagaimana kalo aku tidak bisa kuliah?”. segera aku tepis fikiran itu, dan memulai kembali untuk melangkah di pintu selanjutnya. SBMPTN, aku belajar, aku berusaha lebih keras, aku lakukan yang bisa aku lakukan agar aku bisa lolos dalam test tersebut, aku berdoa kepada Allah agar aku bisa lolos. Ternyata usaha dan doa ku belum maksimal, kembali aku menerima penolakan dari PTN yang ku pilih dan saat itu aku mengalami kekecewaan kembali. Aku bertanya pada diri ku sendiri “Apa yang kurang?” aku sedih, aku iri kepada teman temanku yang semakin banyak lolos di PTN impian mereka. Pintu awal perjalanan telah terbuka kepada mereka, sedangkan aku? Kembali lagi pemikiran itu muncul dalam benakku “Apakah aku bisa kuliah?” bercampur rasa takut, rasa cemas, rasa bersalah menjadi satu malam itu. Aku tak bisa membohongi diriku dengan amarah yang ingin menangis, teriak, ingin menumpahkan segala kekecewaanku. Tetapi aku sadar bahwa semua itu tidak akan mengubah apapun, Aku kembali merapihkan pakaian ku, mempersiapkan diri lebih kuat, mengumpulkan tekad dan memperbanyak doa. Adapun kalimat “Tiada hari tanpa belajar” benar benar aku terapkan saat itu, Aku percaya bahwa tidak akan ada usaha yang mengkhianati hasil, setelah itu aku mengikuti 4 test masuk PTN yaitu, SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, SMM Barat, dan SPMB Mandiri UIN Jakarta. Ternyata, semuanya menolak usahaku, perjuanganku dan harapanku sehingga mematahkan semangatku. Selanjutnya, ketakutan itu terjadi “Apakah aku bisa kuliah?”. Pada saat itu aku tidak ada rencana untuk masuk PTS yang pada saat itu memerlukan pengeluaran dan pembayaran yang lumayan besar untuk kondisi keluarga ku yang sederhana. Aku Lupakan untuk bisa Masuk PTS, Aku tidak ingin membebani orangtua ku untuk membayar uang yang lumayan besar untuk Jurusan yang aku inginkan  waktu itu adalah Teknik Informatika.
Aku takut, kecewa, marah, sedih, semangatku hilang, harapanku hancur, dan ingin rasanya menangis sekencang kencangnya. Hari yang ku rasa berat itu berlangsung selama 1 bulan dengan rasa kekecewaan dan rasa keterpurukan. Melihat teman temanku sudah mulai kuliah, pedih rasanya disaat harus menjawab pertanyaan guru “Raka, kuliah dimana?” karena kalimat itu menurutku benar benar menyesakkan hati. Terkesan berlelebihan memang, tapi memang itu yang aku rasakan saat itu. Setelah itu aku sadar bahwa aku harus kembali menata hidupku, mencoba membuat rencana selanjutnya karena hidup terus berjalan dan aku tidak bisa menunggu kapan hidup datang kepadaku. Aku mencoba untuk bangkit lagi dari kegagalan yang sangat menyedihkan, aku memutuskan untuk belajar dengan sungguh-sungguh dalam satu tahun untuk bisa mengikuti test kembali di tahun depan.

Aku mulai belajar kembali sambil bekerja di tempat yang asing dan tidak menyenangkan bagiku dengan sisa-sisa semangatku dan berpuluh kali mencoba untuk menutup trauma masa lalu.

Awal 2019, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan ku dan mencoba untuk fokus persiapan test, karena aku tidak ingin menerima kegagalan lagi. Aku harus berhasil, aku harus lolos, aku harus kuliah!.
Tetapi ternyata keadaan belum berpihak kepadaku. Aku ingat sekali waktu itu beberapa minggu sebelum test SBMPTN 2019 dimulai dengan datangnya masalah besar menghampiriku.

Ya, ini perihal orangtuaku. Pada saat itu aku harus pergi dari rumah dengan perasaan hancur dalam hidupku. Perjuanganku selama satu tahun terasa musnah karena hal tersebut, sehingga pada akhirnya aku tinggal bersama salah satu temanku. Semuanya hilang begitu saja, semangatku kembali patah dengan fikiranku yang penuh, dan ketakutan itu kembali hadir. Aku marah, depresi aku sampai melakukan selfharm waktu itu, benar benar tahun yang menyakitkan bagi ku.

Akhirnya aku mengikuti 5 test lagi di tahun 2019. SBMPTN, UMPTKIN, SPMB Mandiri UIN Jakarta, SPMB Mandiri UIN Bandung dan SIMAK UI. Dengan sisa semangat yang berkali kali menghalau rasa takut. Kembali aku mengumpulkan harapan itu dengan mengikuti test demi test dan mengeluarkan uang ratusan ribu yang pada saat itu terasa besar sekali untuk ku. Alhasil semua terjadi kembali. Semua menolak ku, mengecewakanku, semua kembali menumbukan rasa trauma kepadaku. Aku Mati rasa, menangis lagi, terpuruk lagi dan kehilangan semangat lagi.

Hari hari buruk berlalu, Aku bekerja di salah satu Kafe di daerahku, Pergaulan yang salah dan kondisi mental yang sakit membuatku menjadi tidak terkontrol, aku mulai melakukan hal-hal negatif, mulai melupakan tujuan hidup, benar benar kehilangan jatidiri kala itu, tetapi Aku mencoba kembali berdiri dari keterpurukan ku. Sungguh, gagal 2 tahun berturut turut adalah hal yang sangan menyakitkan bagiku. Kucoba lagi untuk menata ulang semuanya, masih ada tahun terakhir 2020, Aku berusaha lagi, menata lagi, berjuang lagi, berusaha lagi dan lagi, Belajar dan belajar, dukungan demi dukungan datang dari teman teman dekat ku waktu itu, mereka bilang bahwa aku pasti bisa, aku pasti berhasil.  sambil belajar untuk persiapan SBMPTN 2020, Awal Maret 2020 aku memutuskan untuk resign dari tempatku bekerja. Dengan pengharapan terakhir setelah beberapa kali kecewa, sisa sisa semangat, mental yang babak belur. Aku mengikuti 3 test di tahun 2020 SBMPTN, UMPTKIN dan SPMB Mandiri UIN Jakarta. Tibalah pengumuman SBMPTN, aku membukanya dengan salah satu temanku dan disana tertera aku kembali gagal. Lagi dan lagi aku menangis, aku mengurung diri di kamarku hari itu, ketakutan muncul kembali, amarah memuncak di kepala. Aku merasa tuhan tidak adil kala itu, segala usaha, doa, rasa sakit, kecewa masih belum cukupkah yaa tuhan?

Aku kembali lagi memupuk pengharapanku terhadap 2 hasil test terakhir, aku serahkan nomor peserta ku kepada teman teman terdekatku, aku tak sanggup lagi jika harus melihat hasil yang kembali harus mengecewakanku. Tibalah harinya pengumuman UMPTKIN, Aku hanya berdoa dan berdoa sambil menangis kepada Allah agar memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa kuliah. Aku tak membuka pengumuman, aku serahkan kepada teman teman dekatku. Lalu mereka membuat panggilan bersama dan menghubungiku, aku sudah siap untuk mendengar hasil buruk dari mereka. Hening seketika, lalu aku bertanya “Gimana? Gagal lagi ya?” Mereka kemudian berteriak dan aku sempat mendengar mereka menangis terharu sambil mengucapkan “SELAMATTT, KETERIMA DI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM UIN BANDUNG” dan langsung mengirimkan Bukti kelulusanku. Aku disana hanya diam, Airmata ku keluar, aku bersujud kepada Allah, aku menangis sejadi jadinya, mengucap nama Allah berkali kali. Setelah mereka menyampaikan kabar baik itu, aku diam, aku benar benar terduduk sendiri di kamarku, “ya Allah, Terimakasih Aku bisa kuliah tahun ini” Ucapku beberapa kali dalam hati. Pertama kali kelulusanku setelah belasan kali ditolak, 2 tahun berturut turut di kecewa. Aku hanya bisa menangis terharu sepanjang hari itu.

Beberapa hari kemudian tersisa 1 Hasil yang belum ku terima, dan ternyata Alhamdulillah Puji Syukur aku di terima di Program Studi Matematika di UIN Jakarta, setelah beberapa kali di tolak UIN selama 2 tahun terakhir. Nikmat apalagi ini ya Allah. Aku tidak berhenti mengucapkan rasa syukurku kepada Allah karena telah memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa kuliah. Dan aku memilih Program Studi Matematika UIN Jakarta sebagai tempatku memulai mimpi baru. Setelahnya aku mencoba mendaftarkan diri sebagai Calon Penerima Beasiswa, dan Alhamdulillah Puji Syukur Allah, Aku diterima sebagai penerima Beasiswa, “KULIAHKU GRATIS!” ditambah aku mendapatkan uang saku dari beasiswa tersebut.

Lihat…

Gagal adalah fase yang selalu menghampiri kita dan juga akan kita lewati, Kalo gagal, ya gagal ajaa nangis sepuasnya, marah sepuasnya, kecewa sepuasnya. Tapi jangan lupa, setelah gagal, tata kembali rencana berikutnya, berjuang lagi, berusaha lagi, berdoa lagi. Akan selalu ada hasil yang baik dari proses yang baik pula, Jika Allah belum memberimu kesempatan, percaya bahwa rencana-Nya lebih Indah dari rencana mu. Tetap berusaha, tetap berjuang, tetap berdoa, jangan pernah kehilangan arah hidup, Fokus terhadap apa yang ingin kamu capai, Semua orang mempunyai waktu nya masing masing, semua orang mempunyai takdir nya masing masing, dan kita hanya bisa berusaha untuk membuat rencana, mengenai hasil kita serahkan kepada yang maha menentukan takdir, Tenang aja kita punya Allah dan Allah kita Maha Baik.

Aku ingin mengutip salah satu ayat Al-Qur’an, Allah SWT Berfirman :
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah : 5-6)

Aku pun pernah membaca kutipan salah satu tokoh dan penulis Favoritku :

“Menangis tidak membuktikan kau lemah, itu mengindikasikan kau hidup. Apa yang kau lakukan setelah menangis-lah penentu lemah atau tidaknya dirimu” -Fiersa Besari

“Terbentur, terbentur, terbentur, TERBENTUK” -Tan Malaka

 

Baiklah setelah ini silahkan ambil sisi positif,buang sisi negatif yang terkandung di dalam ceritaku.

Terimakasih sudah membaca semoga dapat dijadikan pembelajaran bagi teman teman semua.

Mohon maaf jika terdapat banyak salah kata maupun kalimat. Pesan terakhirku untuk temen temen semua :

Bangkit, Hidup tak akan menunggu.

 

Penulis : Raka Pratama (Club Writer)