Cahaya Sang Penerang

Di suatu tempat yang sangat sepi lagi gelap gulita hanya ada satu penerangan, cahaya ya yang berdiam diri sendirian Dengan tatapan kosong melihat kedepan. Suasana yang sangat mencekam membuat bulu Kuduk cahaya berdiri dia pun  melihat seseorang di depannya yang tidak ia kenal,  yang membuat dia lebih takut  seseorang tersebut memanggil namanya lama kelamaan suara panggilan itu semakin kencang semakin dekat hingga cahaya pun kaget ternyata seseorang itu ialah ayahnya sendiri. Sang ayah menghampiri cahaya Yang sedang sendirian Hanya Ingin Bilang.

“Cahaya, Ayah titip ibu ya dan jaga diri kamu baik-baik Jangan sampai ibumu merasa kecewa apalagi sampai menangis Ayah ingin pergi dulu,” ucap sang ayah.

“Memangnya ayah mau kemana,”tanya cahaya sambil kebingungan.

“Ayah tidak kemana-mana, Ayah selalu ada di hatimu cahaya,”jawab sang ayah sembari meninggalkan cahaya sendirian.

“Aaaaaa…yah jangan pergi, jangan tinggalin cahaya sendirian,” teriak cahaya sambil menahan air matanya.

“Cahaya bangun nak ayo bantu ibu beres-beres kita kan akan pindah hari ini,”Panggil sang ibu sambil membangunkan cahaya yang tengah mengigau memanggil ayahnya.

“Ayah kemana Bu?”tanya cahaya sambil mencari ayahnya.

“Ayah kan sudah meninggal, pasti kamu mimpi Ayah lagi kan,”jawab sang Ibu sambil menjelaskan jika ayahnya telah meninggal ketika cahaya berusia 5 tahun.

Setelah kejadian itu Cahaya pun bergegas merapikan barang-barang yang akan dia  bawa untuk pindah rumah hari ini . Ia pun masih bingung kenapa  masih saja bermimpi tentang ayahnya padahal ia sekarang telah berusia 18 tahun. Sang ibu pun juga merasa heran, rasanya aneh saja kenapa setelah 13 tahun berlalu  ayahnya masih saja datang ke mimpinya cahaya.

“Semoga ketika pindah dan meninggalkan rumah ini, cahaya tidak bermimpi ayahnya lagi,” kata sang ibu sambil berdoa,

Selama perjalanan kerumah baru Cahaya lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca buku, dan beberapa kali melihat pemandangan dari dalam kaca mobil. Ketika sudah  memasuki Desa   Peteng di sepanjang jalanan desa Cahaya merasakan hal yang aneh di desa ini, ia banyak melihat ibu-ibu yang sedang berghibah di suatu rumah, tiba-tiba terlihat seorang ibu menghampiri ibu-ibu tersebut sembari memamerkan perhiasan yang ia pakai di sekujur tubuhnya, perhiasan yang sangat banyak nan berkilauan seperti toko emas berjalan. Saat melewati pos ronda Cahaya melihat bapak-bapak yang sedang bermain judi karena melihat ada uang di sekitar mereka, tidak hanya itu di samping pos ronda ada juga para pemuda dan beberapa bapak-bapak sedang melakukan sabung ayam. Cahaya yang baru pertama kalinya ke desa ini sangat merasa miris melihat aktivitas yang warga Desa Peteng lakukan, ia sempat terlintas di pikirannya untuk bisa merubah aktivitas yang tidak baik itu menjadi lebih baik.

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang dan pemandangan yang tidak biasa ketiak memasuki desa ini Cahaya dengan sang Ibu pun sampai di rumah barunya. Pertama kali menginjakan kaki di desa ini, tetangga sekitar rumah melihat ia dan ibunya dengan sinis seperti tidak suka atas kehadirannya di desa ini. Desa peteng memang bisa dibilang lokasinya jauh dari perkotaan oleh karena itu tidak banyak orang kota yang datang ke desa ini.

Cahaya yang sedari awal ingin mengubah kebiasaan buruk desa ini pun langsung bergegas mengajak dan menasehati para warga desa yang ia temui untuk berhenti melakukan kebiasaaan buruknya itu. Untuk pertama kalinya ia menemui ibu ibu yang suka ghibah di salah satu rumah, ia menasehati bahwa membicarakan aib atau keburukan orang lain itu tidak baik dan dilarang oleh agama. Tapi nasehat Cahaya pun ditolah mentah-mentah oleh mereka.

“Kamu siapa berani-beraninya nasehatin kami?”kata ibu Dian, salah satu ibu-ibu yang suka berghibah.

“Iya kamu siapa sih ikut campur aja urusan kita orang , lagi pula kan kamu orang baru di desa ini,”seru ibu Sri dengan padangan sinis ke Cahaya.

“Sudah kamu pulang saja , gausah mengusik kebiasaan kami,”kata ibu Sari sambil mengusir Cahaya.

Cahaya yang telah diusair oleh ibu-ibu itu pun dengan berat hati harus pergi, karena ia tak ingin terjadi keributan di sini. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke arah pos ronda untuk menasehati warga yang sedang berjudi dan sabung ayam, ia juga berharap kali ini responnya lebih baik dari yang pertama. Namun apa yang dikata, baru saja sampai cahaya langsung di usir kembali karena mereka tau cahaya ingin apa menghampiri mereka. Karena sebelumnya salah satu warga yang bernama Fathur tidak sengaja melihat Cahaya sedang menasehati ibu-ibu yang berghibah.

“Pergi kamu, pasti kamu mau nasehati kita kan?”kata pak Yanto dengan nada tinggi.

“Ta…..tapi tunggu dulu pak, Cahaya hanya ingin mengajak bapak-bapak untuk berhenti melakukan judi ini, karena judi itu dilarang pak,”ucap cahaya dengan jantung yang deg-degan.

“Halah, anak kemaren sore tau apa soal judi?” kata pak jali sembari tertawa kecil.

“Sudah pergi saja sana, gausah dateng lagi kesini,”seru pak Broto dengan wajah yang terlihat emosi.

Cahaya yang untuk kedua kalinya gagal dan diusir kembali merasa bingung ia harus bagaimana apakah harus dilanjutkan atau memutuskan untuk pulang ke rumah untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sudah mulai kacau. Karena Cahaya adalah seorang yang berjiwa besar, ia lantas memilih untuk melanjutkannya. Tidak jauh dari pos ronda yang merupakan tempat perjudian ada lagi yang namanya sabung ayam. Cahaya pun langsung menghampiri tempat itu. Setelah panjang lebar bicara akhirnya ia mendapatkan respon yang baik dari para warga yang sedang sabung ayam. Mereka pun sadar bahwa sabung ayam itu termasuk perjudian dan dapat menyakiti hewan tersebut. Agus salah seorang pemain sabung ayam pun berterimakasih kepada cahaya karena telah disadarkan atas apa yang ia lakukan selama ini. Awalnya ia diajak oleh Yuda untuk ikut sabung ayam, karena Yuda merupakan teman dari kecil yang berat hati untuk bisa menolak ajakannya itu.

Akhirnya setelah rasa pahit yang ia terima diwal bisa berbuah manis, karena ia berhasil membujuk warga agar bisa berhenti dari kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan. Dengan perasaan yang masih bingung karena masih gagal untuk membujuk beberapa warga. Cahaya lalu memilih untuk pulang agar bisa beristirahat. Pada saat penjalanan ia di hampiri oleh beberapa pemuda setempat, awalnya ia merasa takut apakah ia mekukan kesalahan kepada mereka atau tidak. Namun ternyata mereke menghampiri cahaya karena ingin membantunya untuk bisa mengubah kebiasaaan warga desa.

“Hai, namaku Wahyu ini teman-temanku namanya Rani dan Ayu,”kata Wahyu dengan penuh senyuman menatap wajah Cahaya.

“Hai juga, namaku Cahaya senang berkenalan dengan kalian,”balas Cahaya yang masih tidak menyangkan ada yang ingin membantunya.

“Ehhh….tunggu mau bantu juga boleh tidak?”seru Tegar dari kejauhan yang berlari menghampiri mereka.

Cahaya sangat merasa senang karena mendapatkan teman baru yang akan membantunya dalam misi merubah kebiasaan buruk dari warga desa. Cahaya dan keempat temannya pun merencanakan suatu strategi agar para warga yang masih saja melakukan kebiasaan buruknya itu bisa berhenti. Namun siapa sangka semua rencana Cahaya selalu gagal, karena para warga sudah mengetahui apa yang akan ia lakukan bersama teman-temannya. Cahaya pun merasa ada yang aneh, kenapa rencananya selalu bocor ke warga. Hingga pada suatu ketika setelah rapat dan diskusi bersama temannya ia melihat dan memergoki Tegar yang sedang bertemu dengan Fathur. Ketika ditanya oleh Cahaya Tegar sudah tak bisa beralesan apa apa, karena ia telah tertangkap basa oleh Cahaya.

Selepas kejadian itu Cahaya benar-benar merasa putus asa atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia pun telah salah dalam memilih teman yang ternyata berkhianat padanya. Wahyu, Rani dan Ayu pun berusaha menghibur dan memberi semangat pada Cahaya agar bisa terus melanjutkan misi ini agar semua bisa berhenti dari kebiasaan buruknya. Sang ibu yang merasa sedih melihat cahaya putus asa hanya bisa berdoa agar cahaya diberi kekuatan dalam menyelesaikan masalah ini. Ia juga bilang pada cahaya agar ingat pesan Ayah ketika masih hidup.

“Cahaya kamu harus bisa bermanfaat bagi orang lain, jangan sampai hidupmu itu sia-sia. Setidaknya kamu bisa membuat suatu perubahan dalam diri kamu atau pun orang lain. Jangan mudah putus asa harus bisa selalu bersemangat dalam mengadapi suatu masalah.” ucap sang ibu sambil meneteskan air mata karena ingat mendiang suaminya.

Cahaya yang mendengar ucapan sang ibu, lantas ingat pesan almarhum ayahnya untuk selalu bersemangat. Ia pun lantas mengajak temannya untuk bertemu tokoh masyarakat sekitar. Pertama ia kerumah Pak Heri yang merupakan tokoh masyarakan tertuda di desa ini. Dari sana ia mendapat respon yang baik. Pak heri pun setuju dan mendukung misi Cahaya dalam mengajak warga untuk berhenti melakukan kebiasaan yang buruk itu. Selanjutnya ia mendatangi rumah Pak Joko yang ternyata merupakan kakak dari Pak Dibyo. Mereka memang merupakan tokoh masyarakat di sini. Pak Joko dengan senang hari akan mendukung Cahaya dalam menjalankan misinya, namun Pak Dibyo menolak rencana Cahaya, karena ia menganggap kebiasaan ini sudah lama ada di desa ini. Cahaya yang berusaha meyakinkan Pak Dibyo bahwa kebiasaan ini salah dan keluaran dari ajaran agama. Pak Joko juga berusaha meyakinkan Pak Dibyo agar setuju dengan rencana Cahaya, karena ia ingin desa ini menjadi lebih baik lagi. Akhirnya setelah beradu argumen yang cukup panjang berbuah manis. Pak Dibyo dengan berat hati setuju dengan rencana Cahaya.

Cahaya dan temannya melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Kades yaitu Pak Wandiyo.

“Punten pak, kenapa kebiasaan warga di desa seperti ini ya pak? Apakah bapak tidak melakukan tindakan agar mereka bisa berhenti?”tanya Cahaya ke pak kades

“Sebenernya saya juga takut dan bingung harus berbuat apa, karena saya bisa jadi kades karena mereka yang memilih juga,”jawab pak kades dengan rasa takut

“Bapak kan pemimpin desa ini, jadi gausah takut. Seharusnya bapak bisa mengajak warga agar bisa berhenti dalam melakukan kebiasaan itu. Bapak ga sendirian ada Cahaya dan teman-teman.”kata cahaya sambil meyakinkan pak kades agar bisa bertindak.

Hingga pada akhirnya cahaya terlintas untuk melaporkan para warga yang berjudi ke kantor polisi. Ia tidak main-main dengan rencana ini, jika mereka tidak berhenti mau tidak mau akan dilaporkan ke polisi. Keesokan harinya cahaya dan temannya yang didampingi pak kades serta tokoh masyarakat mengdatangi pos ronda yang biasa dijadikan tempat berjudi.

“Kepada warga yang masih bermain judi dan tidak mau berhenti akan dilaporkan ke polisi!”kata cahaya

“Jangan percaya, palingan itu hanya gertakan saja atau tidak hanya ancaman agar kita berhenti bermain judi,” kata pak yanto dengan rasa tidak percaya

“Eh pak kalo ini beneran gimana? Saya tidak mau di penjara,”seru pak jali sambil ketakutan.

“Iya pak udah berhenti aja sih, kita mulai lagi hidup yang baru,” kata pak broto sambil meyakinkan pak yanto untuk berhenti.

“Ini bukan gertakan ataupun ancaman. Ini beneran akan dilaporkan ke polisi jika tidak mau berhanti,” balas cahaya atas ketidak percayaan pak yanto.

“Tuh kan pak, udah berhenti saja,” seru pak jali dan pak broto sambil ketakutan.

“Oke-oke kita akan berhenti dan tidak akan bermain judi lagi,” balas pak yanto dengan rasa yang berat harus meninggalkan kebiasaan yang telah dilakukannya bertahun-tahun.

“Alhamdulillah kita berhasil juga membujuk warga untuk bisa berhenti bermain judi,” seru teman teman cahaya dan pak kades serta para tokoh masyarakat.

Misi cahaya belum usai, ia masih harus menyelesaiakan permasalahan ibu-ibu yang suka berghibah. Ia berencana untuk meditasi dengan para ibu-ibu dan memberikan penyuluhan bahwa ghibah itu tidak baik. Setelah melukan metidasi ditemani pak kades dan perwakilan tokoh masyarakat. Akhirnya ditemukan titik terang juga para ibu-ibu memutuskan untuk tidak lagi beghibah, mereka telah tersadarkan oleh omongan dari cahaya. Ehh tapi masih ada satu permasalahan mengenai ibu ibu yang suka pamer perhiasan itu.

“Oalah itu namanya ibu Nita, dia mah emang orang gila. Dia emang seperti itu semenjak toko emasnya bangkrut satu tahun lalu,”kata pak kades.

“Oh jadi itu orang gila ya, lalu mengenai perhiasan yang ia pakai itu bagaimana pak?”tanya cahaya.

“Soal perhiasan itu mah hanya mainan saja dan bukan perhiasan beneran,”jawab pak kades.

Hingga pada akhirnya semua misi telah terselesaikan. Cahaya senang sekali bisa bermanfaat bagi sekitarnya dan banyak mengucapkan kepada teman temannya yang telah membantunya selama ini. Pak kades yang bahagia melihat warganya berubah pun mendedikasikan kerja keras cahaya dengan mengganti nama desa peteng menjadi Desa Madhangi yang memiliki arti desa penerang.

 

Penulis : Kevin Septiyan Candra (Club Writer)