Distimia

Haloo sobat Per-HITUNG-an


Seperti yang kita tau 3 hari lagi atau tepatnya tanggal 10 Oktober adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia,  nahh pada kesempatan kali ini saya ingin membahas salah satu gangguan mental yang biasanya penderita nya sulit untuk menyadari dan kebanyakan orang jarang yang mengerti dan tidak tau cara mengatasi nya, serta masih banyak orang yang kurang faham untuk bagaimana menghadapi orang orang yang terdiagnosa. Kali ini saya akan membahas tentang Distimia.

 

Apasih Distimia itu?

Distimia atau yang disebut juga Persistent Depressive Disorder (PDD) adalah bentuk depresi kronis jangka panjang. Orang yang mengalami distimia mungkin akan kehilangan minat untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari, merasa putus asa, kurang produktif, dan rendah diri.

Orang yang mengalami gangguan depresi persisten atau distimia sulit untuk merasa senang, bahkan pada saat-saat bahagia sekalipun. Pengidap digambarkan memiliki kepribadian yang suram, terus menerus mengeluh dan tidak mampu bersenang-senang. 

Meskipun distimia biasanya tidak separah depresi berat, tetapi perasaan depresi yang dialami oleh pengidap distimia dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan dapat secara signifikan menyebabkan masalah dalam hubungan pengidap, sekolah, pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.

 

Menurut Penelitian penyebab Distimia dapat terjadi dari berbagai aspek, contoh nya adalah :

  • Perbedaan Biologis. Orang dengan gangguan depresi persisten mungkin mengalami perubahan fisik pada otak mereka. 
  • Kimia Otak. Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang muncul secara alami yang kemungkinan berperan dalam depresi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan pada fungsi dan efek neurotransmitter ini, serta interaksi mereka dengan neurocircuits yang terlibat dalam menjaga stabilitas suasana hati berperan penting dalam terjadinya depresi dan perawatannya.
  • Sifat Bawaan. Distimia nampaknya lebih sering terjadi pada orang yang kerabat dekatnya juga memiliki kondisi tersebut. Namun, para peneliti masih berusaha menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.
  • Peristiwa Kehidupan. Seperti halnya depresi berat, peristiwa berat seperti kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan, atau tingkat stres yang tinggi dapat memicu gangguan depresi persisten atau distimia pada beberapa orang.

 

Nah bagaimana cara kita mengetahui Gejala dari Distimia ini? Disini aku akan menjelaskan sedikit yaa teman teman.

Gejala distimia biasanya datang dan pergi selama beberapa tahun yang intensitasnya bisa berubah seiring waktu. Namun, biasanya gejala dapat bertahan selama lebih dari dua bulan sekaligus. Selain itu, episode depresi mayor dapat terjadi sebelum atau selama distimia, kadang-kadang kondisi ini disebut depresi ganda.

Gejala distimia juga bisa menyebabkan gangguan yang signifikan, contohnya:

  • Tidak berminat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Merasa sedih, hampa, dan terpuruk.
  • Merasa putus asa.
  • Merasa lelah dan tidak berenergi.
  • Rendah diri, sering mengkritik diri sendiri, dan merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa.
  • Mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan membuat keputusan.
  • Mudah marah dan dapat marah secara berlebihan.
  • Menjadi kurang aktif, dan produktivitas menurun.
  • Menghindari kegiatan sosial.
  • Merasa bersalah dan khawatir tentang masa lalu.
  • Nafsu makan menurun, atau sebaliknya, meningkat secara drastis.
  • Mengalami masalah tidur.
  • Pada anak-anak, gejala distimia dapat berupa perasaan depresi dan mudah marah.

 

Kalo kamu mengalami gejala-gejala distimia seperti di atas, sebaiknya jangan dibiarkan saja. Segera cari bantuan dari tenaga profesional untuk mengatasi gejala-gejala tersebut, sehingga kamu dapat beraktivitas dengan normal kembali. 

 

Setelah Kita tau pengertian, penyebab dan gejalanya, sekarang aku akan menjelaskan tentang bagaimana upaya kita untuk mengobati apabila kita merasakan gejala gejala 

  • Pemberian Obat-Obatan. Gangguan depresi kronis pada pengidap Persistent Depressive Disorder (PDD), dapat diobati dengan memberikan antidepresan. Kembali lagi, pemberian obat akan tergantung pada intensitas keparahan yang dialami oleh pengidap, sesuai dengan umur, serta berat badan pengidap. Setelah dokter meresepkan obat tertentu, gunakan dalam dosis yang tepat. Jangan menambah atau bahkan berhenti tanpa konfirmasi terlebih dulu, karena akan memperparah gejala yang muncul.
  • Menjalani Psikoterapi. Selain mengonsumsi obat-obatan, mengobati distimia dapat dilakukan dengan menjalani psikoterapi atau terapi bicara dengan psikolog atau psikiater yang telah menangani Persistent Depressive Disorder (PDD) yang kamu alami. Pengidap juga dianjurkan untuk menjalani terapi kognitif perilaku. Menjalani psikoterapi bisa menjadi pilihan pengobatan utama yang direkomendasikan untuk anak-anak dan remaja saat mengalami Persistent Depressive Disorder (PDD). Namun kembali lagi, terapi yang akan dilakukan tergantung pada individu masing-masing. Secara umum, psikoterapi dilakukan untuk mengungkapkan pikiran, perilaku, serta emosi yang bisa memperparah gejala yang muncul.
  • Jalani Pola Hidup Sehat jasmani maupun rohani. Di samping mengonsumsi obat dan melakukan psikoterapi, langkah mengobati distimia juga perlu didukung dengan pola hidup sehat untuk membantu meredakan gejala yang muncul. Pola hidup sehat yang dianjurkan adalah mencukupi waktu tidur, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, jangan mengonsumsi alkohol, serta selalu mengungkapnya apapun yang kamu rasakan pada orang terdekatmu.

 

Distimia bukanlah gangguan depresi yang dapat hilang begitu saja. Jadi, jangan abaikan jika gejala muncul, dan carilah bantuan medis segera. Distimia dapat ditangani melalui pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Karena bersifat kronis, mengatasi gejala distimia dapat menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan melakukan kombinasi terapi bicara (psikoterapi) dan obat-obatan, distimia dapat diobati.

Itulah dia teman teman penjelasan tentang Distimia, bisa kita lihat betapa pentingnya kesehatan mental untuk keberlangsungan kehidupan kita, oleh karena itu marilah mulai dari sekarang sayangi dirimu, karena kamu dan kita semua berhak bahagia. Selamat hari kesehatan mental dunia <3

 

Penulis : Raka Pratama (Club Writer)