Gelombang Cinta

Pagi itu, udara terasa sangat menyegarkan. Dinginnya udara pagi begitu menusuk tubuhku. Kubuka mataku perlahan, seraya melirik sekilas jam yang tergantung di dinding kamarku. Aku lalu bangkit dari tempat tidurku, kutarik selimut yang masih sangat berantakan di atas tempat tidur itu. Setelah kurapikan tempat tidurku, aku pun berjalan melangkah menuju pintu dan kuputar kunci yang melekat pada gagang pintu itu sambil tangan kiriku yang alihkan ke balik pintu untuk mengambil handuk berwarna merah muda yang sangat lembut itu.

Kemudian, aku duduk menghadap jendela yang mengarah ke halaman belakangku tiba-tiba ayahku membawa sebuah tiket untuk kepergianku dan paspor yang telah di cap dengan visa AS. Aku sudah kelewat senang karena inilah saatnya aku bisa belajar mandiri dan tinggal sendiri tanpa pengawasan orang tua. Aku sudah bisa membayangkan hidupku nanti; tingal di apartemen sederhana tetapi layak huni di pusat kota New York, memelihara seekor hewan, masak sendiri walaupun akhirnya pasti pesan delivery juga, dan jalan-jalan ke Central Park sambil melamun di atas Bow Bridge – perfect! Selama perjalanan berjam-jam di atas pesawat (yang kuhabiskan dengan mengotak-atik TV pesawat dan tidur) hingga aku menginjakkan kaki di New York untuk pertama kalinya,

Ada yang diam-diam mengalir lembut, membuat tersenyum paling manis, lalu serasa punya energi lebih untuk bertindak, untuknya. Kala itu, aku bertanya pada hatiku sendiri, “apa benar ini cinta? Seperti apa yang dirasakan teman-teman seumurku?” yang aku tahu kala itu, cinta ala monyet diam-diam membuat pipiku bersemu merah merona hanya karena ada tulisan di buku seperti ini “ I Love You by R”

Lalu, aku malu dan seolah ingin menghapusnya namun ada faktanya aku bertanya, “Bolehkah aku memintamu mengabadikan tulisan ini hingga menjadi prasasti atas perjalanan kita?”

Meski tidak seapik itu pertanyaanku kala itu yang pasti rasa yang manusia sebut cinta itu melahirkan tindakan-tindakan yang tulus. Ia memberi tanpa diminta. Bersedia mendampingi meski lelah. Menyempitkan ego lalu melapangkan. Kesediaan-kesediaan tanpa alasan.

Selamat datang dalam ruang cintaku. Memori yang aku rekam detail hingga hal yang membahagiakan, menyesakkan, kebohongan, kerinduan, kepura-puraan, keberjarakan, lalu tentang merelakan. Yang aku rasakan akhirnya memuat banyak pembelajaran. Meski tentang kisah paling menyesakkan pun, esok hari kita akan bersyukur karena pernah melewatinya. Tidak ada perayaan atau hadiah karena telah memenangkan kerelaan. Namun, aku merasa bahagia sebab telah melewati episode kesedihan, bahkan pernah menertawakan karena pernah sesedih itu. Yang ke semua episode-episode itu akan berujung pada sebuah kepastian janji Tuhan.

Cinta adalah kata yang memiliki banyak makna. Makna cinta setiap orang berbeda, tergantung bagaimana ia menempatkan dalam kehidupannya. Cinta bisa menjadi anugerah yang diberikan Tuhan kepada siapapun, tidak terlewat satu pun. Termasuk kepadaku, seorang wanita biasa. Seorang wanita biasa yang perasaannya bekerja lebih banyak dari pada logika. Seringkali logika itu kalah oleh satu hal bernama perasaan. Barangkali kita tidak dapat menolak saat rasa itu hadir, rasa yang harusnya bisa dikelola sampai saatnya tiba.

Rasa itu mulai masuk menyelinap dalam rongga-rongga hati yang tidak dapat aku bendung, lalu aku membiarkan semua mengalir dengan sendirinya. Tanpa diminta, rasa itu tumbuh setiap hari, jam, menit bahkan detik.

Kamu datang, aku belum bersiap. Aku merasa ada hal yang hadir diam-diam. Orang lain memanggilnya cinta. Dan, aku tidak bisa menolak. Kamu datang, sementara kita tidak bisa bersama begitu saja. Kamu datang, sementara aku tahu, berpura-pura mengabaikanmu tidak pernah semudah itu.

Andai kata bersamamu itu semudah aku menaruh cinta padamu, aku tak akan setakut ini. Aku terlalu memikirkan jarak yang menjadi penghalang diantara keraguanku dan keyakinanmu. Orang bijak selalu berkata, jangan takut untuk memulai cinta, namun aku tak tau membedakan antara cinta dan rasa nyaman. Terkadang dengan melihatmu saja hati menjadi teduh, keberanian seketika muncul tanpa ragu. Kesadaranku pun seketika merasuki bahwa aku salah dengan berfikir tentang semua itu.

Aku takut bahwa perasaan yang aku miliki ini tidak benar, karena aku tau bahwa Sang Pemilik Hati tidak membenarkan cinta sebelum berlabelkan halal. Jujur aku mengatakan bahwa dengan hadirnya dirimu di kelopak mataku, pandanganku berbeda dengan kata yang mengaku “cinta.” Semua rasa bercampur menjadi satu seperti es campur. Banyak warna banyak rasa. Perasaan itu datang secara tiba-tiba tanpa permisi. “Oke, kamu pintar sekali menggoyahkan prinsipku”, ujarku di hati.

Kau lihat hujan? Lihatlah!

Datangnya beramai-ramai dengan penuh percaya diri, ada yang mengatakan bahwa hujan adalah kenangan yang tertinggal, ada yang beranggapan bahwa hujan adalah sebuah musibah, ada yang bersyukur disebabkan karenanya, dan aku, aku merasakan segala bentuk perasaan yang membawaku tak bisa menentukan perasaan apa itu. Mudah sekali menghapus ingatan tapi aku tak bisa menjamin tentang sebuah kenangan.

Kita… ah bukan, maksudku, aku dan kamu adalah kita yang berbeda. Aku merasa sedang berada di persimpangan cinta, ujian cinta yang mulai kurasa. Aku hanya ingin menjagamu lewat bait-bait doa, mengertilah. Tuhanku Maha Baik, masih saja memberikanku kesempatan hidup dan memperkenanku untuk belajar memperbaiki diri.

Maaf, selama ini aku berbohong dengan begitu dalam, tapi percayalah satu hal bahwa perasaanku tulus. Aku tidak menjamin ketulusanku, tapi aku menjamin yang aku selalu minta pada Sang Pemilik Hati bahwa hatimu akan terus terjaga. Aku ingin mencintaimu dengan cara yang baik. Itu saja.

Jika suatu saat nanti aku tak lagi menemukanmu seperti ini, bacalah percakapan kita sehari-hari yang biasa kita lakukan. Aku sengaja merangkumnya agar lebih mudah kau pahami tidak serumit aku memilih satu kata yang pantas untuk kita sekarang. Kegilaan kita yang biasa kita lakukan semua aku rangkum sedemikian rupa, agar ketika kau membacanya tidak ada penyesalan dalam diriku yang tak bisa aku katakan langsung padamu.

Kau ingat julukan yang pernah kita bicarakan ?

Ya… tepat sekali! Kita sama-sama berencana mengungkap si “penyihir rasa” menyebarkan racunnya kejagat raya, tapi si “Pembohong Jiwa” menggagalkan semua rencananya. Mereka saling beradu syair karena mereka adalah penguasa hati mereka masing-masing. Seiring berjalannya waktu, mereka menjadi dekat dan …

Ah sudahlah, tak ada gunanya untuk mengingatkanmu tentang semua itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa jika kau sempat tolong buka e-mail ini dan bacalah semua yang aku tuangkan didalamnya. Mungkin tidak butuh waktu lama, jika kau sudah mengerti apa maksudku berilah isyarat agar aku bisa mewujudkannya segera.

Sehingga, bersatunya kita adalah kebahagiaan bagi langit dan bumi. Kolaborasi kita justru akan menguatkan untuk melakukan kebermanfaatan. Bersamamu, mampu lebih keras berjuang dan berbahagia lebih tulus.

Jika tidak….

Nikmati saja dulu kesendirian. Sendiri tidak berarti sepi, karena kesendirian tidak sama dengan kesepian. Tidak akan ada rasa sepi yang menyapa jika hati kita selalu diisi dengan rasa syukur, yaitu rasa dari semua rasa tentang Tuhan. Bersyukurlah karena Tuhan tidak pernah melepaskan pelukan erat-Nya. Dia hanya ingin mengistirahatkan hati dari cinta yang membuat kita salah melangkah.

Sebuah perpisahan takkan membuat sepi, jika Tuhan selalu di hati. Karena ruh adalah cahaya. Cahaya itu gelombang. Ia memiliki frekuensinya. Maka, ketika frekuensi niat adalah kebaikan, maka Tuhan dengan mudahnya mengirimkan sosok-sosok pengganti yang jauh lebih baik, bersiaplah menerima kejutan-Nya.

Penulis : Khoirunnisa Fi Nurdin