“Kecemasan” di Masa Pandemi

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ditetapkan pada 31 Maret 2020. Pemerintah Daerah (Pemda) dapat melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk satu provinsi atau kabupaten/kota tertentu. PSBB dilakukan dengan pengusulan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Menteri Kesehatan.

Akibatnya Hashtag #dirumahaja menjamur seiring berjamurnya kasus covid 19 yang melanda Indonesia. Peraturan ini juga berdampak kepada siswa serta mahasiswa yang mengalihkan kegiatan belajar mengajar via daring. Mungkin yang kasat mata, perubahan yang terlihat adalah kegiatan yang biasanya terjadi dilakukan secara langsung menjadi via daring, bahkan hal sederhana seperti mengobrol. Namun perubahan yang tak kasat mata adalah perubahan emosional secara mental.

Terkadang ada beberapa permasalahan yang lebih mudah jika di bicarakan secara langsung kepada teman atau sahabat. Belum lagi tugas perkuliahan yang semakin menumpuk karena kuliah online, ditambah tugas di luar perkuliahan yang semestinya dikerjakan secara bersama-sama dengan rekan kelompok, mendadak harus dikerjakan secara individual. Banyak tekanan-tekanan yang di dapat selain ketakutan-ketakutan akan pandemi yang masih meneror, belum lagi kasus perekonomian yang menghantam sebagian masyarakat membuat psikis kita semakin tertekan. Stress jangka panjang yang kita alami dapat menyebabkan kita mengalami Anxiety atau Gangguan Kecemasan. Lalu apa sebenarnya anxiety ? Seberapa bahaya gangguan kecemasan ini ? Apa yang harus dilakukan agar kita dapat menghindari anxiety ?

Menurut kamus Kedokteran Dorland, kata kecemasan atau disebut dengan anxiety adalah keadaan emosional yang tidak menyenangkan, berupa respon-respon psikofisiologis yang timbul sebagai antisipasi bahaya yang tidak nyata atau khayalan, tampaknya disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak disadari secara langsung. anxiety juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan yang tidak tenang, cemas, takut, dan dapat bersifat ringan sampai parah. Kondisi ini dapat muncul tanpa sebab yang jelas. Ia merupakan tingkatan emosional dengan karakteristik adanya perubahan pada tubuh, pikiran, dan tingkah laku seseorang. Bukannya rasa cemas itu wajar ? Rasa cemas memang wajar, namun jika rasa cemas terjadi secara berlebihan dapat membahayakan tubuh baik secara psikis maupun secara fisik.

Gejala anxiety dapat berupa berdebar-debar, sulit bernafas, berkeringat, pingsan. Emosi penderita tidak stabil, ia sangat irritable, cepat tersinggung, sering dalam keadaan excited/gempar/gelisah. Namun juga cepat menjadi depresi disertai bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi dan rasa dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak jelas. Selalu diliputi ketegangan emosional dan diganggu bayangan-bayangan. Sering merasa mual dan muntah, badan selalu lelah, menderita sesak nafas, banyak berkeringat, bergemetaran. Lalu apa yang harus di lakukan apabila kita mengalami gejala-gejala anxiety ? Apakah kita harus bertemu psikolog ? Tenang, kita memang harus bertemu psikolog jika kecemasan yang kita derita tidak dapat di kendalikan serta berkelanjutan. Berikut beberapa cara untuk meredakan gejala – gejala tersebut.

Kita bisa menangkan pikiran dengan melakukan meditasi atau beribadah. Kemudian kita dapat berendam air hangat untuk merelaksasikan otot-otot yang menegang. Jangan lupa berolahraga selama kira-kira setengah jam. Berolahraga bisa mengurangi kecemasan, dan membuat kita lebih tenang, serta kian percaya diri. Ini adalah pilihan, tetapi menggunakan minyak esensial untuk pijat atau aromaterapi penghantar tidur dapat menjadi media relaksasi. Melakukan hobi yang disukai atau bahkan mencoba hal-hal baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Bercerita dengan orang-orang kepercayaan, entah itu keluarga, pasangan, atau sahabat terdekat. Apabila kegiatan-kegiatan tersebut belum mampu membuat tenang, psikolog bisa menjadi solusi.

Pepatah mengatakan “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Anxiety dapat dicegah dengan cara melakukan hal-hal berikut. Kita bisa mencukupi waktu tidur dan istirahat.Lalu kita harus membatasi konsumsi kafein dan minuman beralkohol. Mengurangi stres dengan mencoba teknik relaksasi, misalnya meditasi dan yoga. Jangan lupa melakukan aktivitas fisik atau berolahraga secara teratur. Dan yang terakhir kita dapat bertukar pikiran atau curhat dengan teman atau keluarga.

Penulis : Atikah Dhani A.