MODULO KEHIDUPAN

Lembutnya buaian takkan mampu menghapus luka yang tlah tercipta. Ibarat kaktus, duri-duri yang ia miliki takkan hilang apabila terbalut lembutnya sutra. Hanya sekedar membantunya berkamuflase dan menghilangkan sejenak jati dirinya. Tetapi, jangan lupa bahwa hal ini akan membuat sutra menjadi rusak karena tertancap duri-duri yang dimiliki kaktus. Jika sudah seperti ini, bisakah kita kembalikan keadaan seperti sediakala hanya dengan sentuhan? Apakah akan membuat sutra tetap lembut dan bernilai jual tinggi?

Mari kita pikirkan, bagaimana caranya menyelesaikan masalah yang telah terjadi dan mengembalikan semuanya seperti semula tanpa ada yang dikorbankan? Sejatinya, dalam hidup kita tak luput dari pilihan. Seperti halnya dalam  menyelesaikan Aritmatika Modulo. Jika kita mempunyai angka 2 dan ingin mencari bentuk aritmatika modulonya. Maka, kita mempunyai beberapa pilihan yaitu:

1)26 Mod  8

2)10 Mod 8

Kita lihat bahwa pilihan 1) dan 2) sama-sama menghasilkan angka 2. Tetapi melalui bentuk modulo yang berbeda. Apa yang bisa kita simpulkan? Dari titik yang sama (angka 2) kita bisa mendapatkan hasil akhir yang berbeda (bentuk modulo). Semua manusia pasti berasal dari titik yang sama yaitu rahim. Hanya pemilihan langkahnya yang berbeda. Tentunya, dari pilihan tersebut akan membawa kita ke masalah hidup yang berbeda pula. Mari kita bahas,  dalam aritmatika modulo terdapat beberapa teorema yang sangat membantu dalam menyesaikan permasalahan yang ada di dalamnya. Sebagai contoh pada Teorema 3.1 Jika a, b, c dan m adalah integers dengan m>0 maka a≡b(mod m). Apabila:

(i) a + c ≡ b + c (mod m)

(ii) a – c ≡ b – c (mod m)

(iii) ac ≡ bc (mod m)

(dikutip dari buku Elementary Number Theory and its application by Kenneth H. Rosen)

Dari teorema tersebut, ada 3 pilihan langkah penyelesaian untuk membuktikan a≡b(mod m). Setiap pilihan yang kita ambil tentu mempunyai tingkat kesulitan atau lama pengerjaan yang berbeda. Lalu apa kaitannya dengan pertanyaan di awal?

Awalnya, kita hanya memiliki angka 2. Untuk bisa mendapatkan angka 2 tersebut telah diberikan dua pilihan: 1)26 Mod  8  dan 2)10 Mod 8.  Kedua pilihan itu pun masih bisa menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana cara memperolehnya. Kehidupan kita juga sama, menghasilkan pilihan-pilihan baru dari setiap keputusan yang kita ambil. Tapi, ada yang berbeda. Tidak semua kehidupan kita sama seperti Matematika.

Saat kita mempunyai soal yang harus di pecahkan dalam Matematika. Tentu saja setelah menemukan solusi atau penyelesaian soal tersebut, kita masih bisa mencari cara untuk membuktikan ‘Apakah solusi tersebut benar’ dengan cara mengembalikan penyelesaian tersebut ke dalam bentuk soal. Namun, dalam kehidupan ini kita tidak bisa mengembalikan keadaan seperti sediakala. Contohnya, seperti keadaan kain sutra yang telah dibahas di awal. Walaupun kita tidak bisa membuat sutra tetap lembut dan bernilai jual tinggi. Setidaknya, kita bisa menghargai keberadaan sutra tersebut dan mengakui pengorbanannya yang telah tertancap duri kaktus.

Selayaknya manusia yang pasti pernah melakukan kesalahan. Tak sedikit orang yang enggan mengakui kesalahannya, bahkan ada beberapa orang yang merasa bahwa hal itu bukan merupakan sebuah kesalahan. Sebenarnya meminta maaf bukanlah hal yang memalukan, karena itu bisa menjadi suatu cara untuk menghargai keberadaan hati seseorang dan mengakui bahwa ada perbuatan yang lebih baik dan sangat mungkin untuk dilakukan selain perbuatan tidak menyenangkan.Semenjak istilah “baper” melegenda. Seringkali kita menyalahgunakan istilah tersebut untuk melindungi diri dari kata “salah”.

Sebagian dari kita mungkin telah terbiasa tuk memendam semua rasa dalam dada. Seolah kuat tanpa adanya tempat berbagi. Apakah bisa? Mungkin benar, kita bisa memendam semua rasa itu sendiri tanpa seorangpun yang tahu. Tapi yakinkah kita kuat tanpa adanya satupun tempat tuk mencurahkan isi hati? Bukan menjadi rahasia lagi, manusia memanglah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, mari sama-sama menjaga silaturahmi. Sebelum penyesalan menghampiri diri. Tentu tak dapat dipungkiri, manusia takkan luput dari salah. Tapi, bukankah tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki? Semangat!!!

Penulis : Andini Candraningtyas (Club Writer)