Oposisi ! Pengurangan Emisi Namun Deforestasi Tetap Beroperasi

Oposisi ! Pengurangan Emisi Namun Deforestasi Tetap Beroperasi

 

Tengah ramai di jagat media social, khususnya twitter mengenai pernyataan mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia pada media social twitter miliknya tanggal 04 November 2021. Dalam ulasan thread miliknya mengenai FoLU net carbon 2030, Ibu Siti Nurbaya Bakar menyinggung mengenai Deforestasi. Masyarakat menyoroti salah satu kalimat yang menggelitik “Pembangunan besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi.”

Lalu apa sebenarnya Deforestasi? Mengapa pernyataan tersebut dapat muncul? Apa yang sebenarnya tengah dilakukan kementrian lingkungan hidup dan kehutanan?

Sebelum kita menggali lebih lanjut, mari kita berkenalan dengan Emisi Karbon yang menjadi titik awal perbincangan ini. Emisi karbon adalah gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran senyawa yang mengandung karbon, seperti CO2, solar, LPJ, dan bahan bakar lainnya. Dalam arti sederhana, emisi karbon adalah pelepasan karbon ke atmosfer. Emisi karbon menjadi kontributor perubahan iklim bersama dengan emisi gas rumah kaca. Emisi gas yang berlebihan dapat menyebabkan pemanasan global atau efek rumah kaca. Hal ini mengakibatkan peningkatan suhu di bumi secara signifikan. Maka dari itu kementrian lingkungan hidup dan kehutanan membuat agenda FoLU Net Carbon Sink 2030 guna menegaskan komitmen mengendalikan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan sehingga terjadi netralitas karbon sektor kehutanan (diantaranya berkaitan dengan deforestasi) pada tahun 2030.

Lalu apa itu Deforestasi ?

Deforestasi adalah adalah suatu peristiwa hilangnya hutan alam beserta dengan atributnya yang diakibatkan oleh penebangan hutan. Penebangan hutan sendiri bertujuan mengubah lahan hutan menjadi non hutan, sedangkan menurut KBBI, deforestasi adalah kegiatan penebangan kayu komersial dalam skala besar. Tingginya angka deforestasi di Indonesia sangat berhubungan erat dengan permintaan lahan untuk konversi pertanian dan pertambangan. Jumlah hutan yang ada di dunia saat ini kurang lebih hanya tersisa 30% saja. Kondisi ini semakin diperparah dengan laju deforestasi yang setiap tahun berada pada angka 12-15 juta hektare. Di Indonesia sendiri, kawasan hutan masih mencakup lebih dari 50%. Sayangnya setiap tahun angka deforestasi terus meningkat. Setidaknya sejak tahun 2016 ada sekitar 500.000 hektar lahan deforestasi dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Lalu mengapa kita tidak melakukan Zero Deforestation dalam agenda FoLU Net Carbon Sink 2030 ? Bukankah hal tersebut sangat membantu dalam mengurangi emisi karbon ?

Seperti yang kita tahu, Indonesia masih memiliki kawasan hutan sebanyak lebih dari 50% , pengelolaan hutan dengan baik adalah kunci, menurut mentri lingkungan hidup dan kehutanan, Ibu Siti Nurbaya Bakar “Memaksa Indonesia untuk zero deforestation di 2030, jelas tidak tepat dan tidak adil. Karena setiap negara memiliki masalah-masalah kunci sendiri dan dinaungi Undang-Undang Dasar untuk melindungi rakyatnya, Misalnya di Kalimantan dan Sumatera, banyak jalan yang terputus karena harus melewati kawasan hutan. Sementara ada lebih dari 34 ribu desa berada di kawasan hutan dan sekitarnya.”

Walau begitu, masih ada beberapa pendapat masyarakat dari segi lainnya, seperti deforestasi untuk kepentingan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang di nilai untuk kepentingan pribadi sangat tidak dibenarkan. Perizinan deforestasi pada hutan di Indonesia juga harus di perketat agar lingkungan kita bias tetap lestari dan perwujudan agenda FoLU Net Carbon Sink 2030 dapat terasa nantinya.

 

Penulis : Atikah Dhani Ayuningtyas (Club Writer)