Problematika kuliah tatap muka : Wacana atau nyata?

Problematika kuliah tatap muka : Wacana atau nyata?

…..

Sudah satu tahun sejak pandemi menyerang segala aspek kehidupan, pendidikan di Indonesia pun terkena imbasnya. Pemberlakuan belajar daring untuk mahasiswa menjadi salah satu yang dilakukan. Kini setelah tahun berganti dan vaksinasi sudah berjalan, positivity rate Covid-19 di beberapa daerah kian menurun. Kementerian pendidikan memberikan wewenang penuh pada pemda untuk menyelenggarakan PTM. Pernyataan ini diberikan oleh Nadiem Makariem selaku menteri pendidikan.

Beliau menuturkan, “Kami mendorong kampus-kampus yang berada di wilayah PPKM level satu sampai tiga untuk segera pertemuan tatap muka terbatas kepada mahasiswa,” ujar Nadiem melalui keterangan tertulis, Sabtu (28/8/2021).

Berbagai reaksi pun bermunculan mengikuti ucapan menteri pendidikan tersebut. Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Panut Mulyono mengatakan, saat ini, masih banyak perguruan tinggi yang belum bisa sepenuhnnya melaksanakan pembelajaran tatap muka. Saat ini, hal yang bisa dilakukan yakni membagikan bantuan kuota internet kepada mahasiswa dan dosen agar pembelajaran tetap dapat berjalan dengan lancar.

Perkuliahan tatap muka memang menjadi hal yang sangat dinanti setiap mahasiswa. Walau begitu, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta belum memutuskan apakah perkuliahan tetap akan berjalan secara online atau offline. Namun melalui surat edaran kampus, Uin Jakarta menyediakan kegiatan luring hanya untuk mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, kunjungan laboratorium, dan perpustakaan. Sementara itu, SEMA atau senat mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi membuat form untuk tinjauan mahasiswa dalam memilih metode perkuliahan yang nantinya akan diajukan kepada dekanat sebagai bahan pertimbangan perkuliahan.

Adapun terdapat 3 harapan untuk metode perkuliahan mendatang :
1.) Perkuliahan online dan praktikum online.
2.) Perkuliahan online dan praktikum offline.
3.) Perkuliahan offline dan praktikum offline.
Dari 3 harapan diatas, hampir 70% mahasiswa memilih poin terakhir. Tentu saja dengan pertimbangan sudah mendapat vaksin dan paham dengan protokol kesehatan. Sementara beberapa mahasiswa penduduk Fst memilih hal yang lain dengan pertimbangan banyak mahasiswa yang tinggal di luar Jabodetabek dan luar pulau jawa. Namun diluar itu semua, kesiapan kampus lah yang menjadi hal utama. Pihak kampus tentunya harus memikirkan secara matang berbagai dampak yang akan muncul begitu perkuliahan dibuka ataupun jika masih memilih daring.

Sejalan dengan pengumuman yang diberikan kemendikbud, Beberapa Universitas di pulau Jawa sudah mulai menerapkan perkuliahan secara offline secara berkala dan terbatas. Untuk mensukseskan PTM, mahasiswa berperan penting dalam berkomitmen menjalankan protokol kesehatan. Dan kelengkapan surat vaksin menjadi hal yang wajib agar dapat kembali belajar secara tatap muka.

 

Opini :

Narasumber : Hilmah Amalia- Mahasiswi matematika angkatan 2020

Saya setuju kuliah offline. Karena mau sampai kapan kuliah online? ya mau gak mau kita harus siap offline, udah suntuk banget. Lama lama saya kena zoom fatigue nih kalo online terus. Tapi saya setuju dengan syarat, udah vaksin 2 kali, udah steril ruang pembelajaran, semua orang paham dan patuh prokes. Tapi saya gak setuju kalo hybrid. Soalnya biaya jadi double, beli kuota banyak, bayar kos juga iya. Jadi kalo mau PTM jangan setengah-setengah. Kasian mahasiswa yang uangnya masih dari ortu, pandemi gini pendapatan menurun pengeluaran dobel.
Kalau ditanya lebih enak mana offline atau daring, saya gak bisa jawab. Karna ketika kita memilih sesuatu harus berdasarkan apa yang pernah dirasain, kalau cuma ‘kata orang’ gak relate nanti. So, selama saya kuliah saya cuma pernah daring. Mana yang lebih mudah? gak tau. Tapi apakah daring mudah? nggak juga.
Terakhir menurut saya dampak positif dari kuliah PTM ya kayak hidup balik normal lagi seperti 2019, bisa bercengkrama dengan orang, bicara ga secara verbal aja tapi juga nonverbal. Kita bisa nanya langsung ke temen atau ke dosen kalau ga paham, bisa pergunakan fasilitas kampus, pikiran juga bisa refresh. Negatifnya? kasian yang imunnya ga kuat dan gampang sakit, saya bukan orang yang ngikutin banget perkembangan C19 tapi tetap takut aja ada gelombang baru.

Narasumber II : Najib Ridho

Sangat setuju, karena bagi saya, dengan direalisasikan nya rencana kuliah tatap muka akan memudahkan para mahasiswa dan dosen berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu, pemahaman mahasiswa juga dapat lebih baik dibandingkan kuliah daring dan para dosen pun dapat lebih mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa nya mengenai materi yg disampaikan. Dan Lebih mudah kuliah tatap muka secara langsung, karena dapat meminimalisir kemungkinan gangguan yg didapat saat kuliah daring. Namun, kedua metode kuliah tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan nya masing-masing.
Dampak positif kuliah offline, yaitu tingkat pemahaman mahasiswa mengenai materi dapat lebih baik, interaksi antar dosen dengan mahasiswa akan terjalin lebih baik, para mahasiswa dapat lebih “fresh” karena dapat beraktivitas di daerah kampus, tidak hanya di rumah atau di depan laptop/HP saja. Sedangkan dampak negatif nya yaitu tingkat resiko tertular wabah penyakit lebih tinggi jika tidak disiplin dalam menjaga protokol kesehatan.