Realisasi Petuah R.A. Kartini

Bagiku sosok inspiratif perempuan setelah ibu adalah R.A. Kartini. Judul karya nya saja sudah sarat makna, “Habis Gelap Terbitlah Terang” kalimat dalam judul itu ku jadikan semboyan hidup saat aku mendapat kegagalan. Kegagalan itu menakutkan dan keberhasilan itu sulit didapatkan. Jiwa manusia memang selalu ingin hidup tanpa cobaan ya. Namun, cobaan itu bak kulit yang melekat pada badan. Tugas kita hanya memilih untuk membersihkan atau membiarkan kulit berdebu.

“Gimana nih hasil SNMPTN?”

Aku benci pertanyaan itu, bisakah hilangkan pertanyaan itu dari seluruh orang yang penasaran dengan hasil SNMPTN ku? Dengan berat hati, aku hanya membalas, “Belum rezekinya,” Kecewa? Sangat! Semangatku hancur mendapat warna merah. Ingin protes, tapi pada siapa? Ku biarkan air mata runtuh menangisi hasil perjuanganku. Nilai raport yang telah ku raih selama lima semester seakan sia-sia dijadikan peringkat pertama di sekolah. Pikiranku buyar, aku harus apa setelah ini? Diam saja meratapi warna merah kesedihan? Tidak, aku tidak boleh seperti itu. Ku usap air mataku, tarik napas dalam-dalam, dan tersenyum.

“Aku pasti bisa melewati ini!” tekad ku dalam hati.

Move on, itu hal yang harus ku lakukan. Melupakan hari kemarin dan menata hari yang akan datang. Mengikhlaskan juga berusaha menerima kenyataan.

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” R.A. Kartini

Kutipan itu memperkuat tekad untuk melawan rasa kecewaku. Satu hari setelah hari warna merah, dengan semangat aku mencari informasi pendaftaran beasiswa dan finalisasi UTBK. Aku terlahir di keluarga sederhana, apapun seadanya, asal kan bahagia. Pihak keluarga memberiku semangat, meyakinkan bahwa aku manusia kuat.

Sambil menunggu jadwal UTBK, aku mencoba mencari informasi pendaftaran universitas lainnya. Oh iya, saat SNMPTN kemarin aku mendaftar di UGM dan UNNES. Seakan bunuh diri ke jurang sebenarnya, sebab belum ada satu pun jejak yang diterima di UGM jalur SNMPTN. Aku ingin menjadi gerbang untuk adik kelasku, tapi nyatanya gerbang itu bergembok dan aku tidak memiliki kuncinya.

UTBK aku mencoba berjalan di tebing, UGM dan UNDIP sebagai puncaknya. Sayangnya tali ku tidak kuat hingga aku terjatuh dan tertimpa kata “gagal” Ya, aku tidak diterima, mungkin karena nilai UTBK ku yang tidak tinggi. Tapi kali ini aku tidak sepenuhnya sedih, karena nilai TPS ku memenuhi persyaratan pendaftaran PKN STAN. Padahal aku sempat melepas UIN Walisongo yang telah menerima ku di jalur SPAN PTKIN hanya demi Universitas Patih Majapahit.

Sesuai dengan alasanku itu, aku mendaftar UTUL UGM. Aku tes diantar oleh keluarga ku, sekalian healing gitu. Satu Minggu setelah UTUL yang dilakukan offline di kampus UGM, aku tes SKD di BKN Semarang diantar oleh keluarga lagi. Selain pendaftaran yang tes nya offline, aku juga mendaftar berbagai universitas yang membuka pendaftaran online, di antaranya SIMAK UI, SM ITB, UNPAD, UNNES, UNY, bahkan Tel-U.

Aku selalu ingat pesan R.A. Kartini, “Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.”

Pesan itu sangat menampar rasa malas dan mengobarkan api semangatku. Semua pendaftaran yang aku ikuti itu tidak ada satu pun yang memberiku kata “Selamat!”

Kegagalan belasan kali sungguh mengubah mentalku. Tidak hanya mental, uang yang telah aku tabung pun semakin menipis hanya untuk biaya registrasi yang tak kunjung berhenti. Sampai akhirnya aku merubah jalan mimpiku, mungkin tahun ini aku tidak ditakdirkan menyandang status mahasiswa. Tersisa satu harapan universitas di tahun 2021. Aku sudah siap jika hasilnya sama seperti sebelumnya. Aku sudah mencari informasi lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok dengan diriku. Jika bukan jalan universitas, mungkin jalan lainnya masih dapat mengantarkan aku pada mimpi-mimpiku.

“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.” R.A. Kartini

Bermimpi! Bermimpi setinggi-tingginya agar tidak jatuh serendah-rendahnya. Ya aku aku bermimpi dan berusaha menggapai mimpiku. Aku ingin memperbaiki keadaan ekonomi keluargaku, aku ingin mengangkat derajat kedua orang tuaku.

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” R.A. Kartini

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” R.A. Kartini

“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.” RA Kartini

Aku sangat bahagia, walaupun kenyataannya menjadi mahasiswa di era pandemi itu seakan menjadi kekasih bayangan. Jujur, Jabodetabek itu bukan lah tempat keinginan ku untuk melanjutkan pendidikan. Tapi aku sadar, bahwa pilihan Allah itulah yang terbaik untuk diriku. Terlebih, aku mendapat pekerjaan sampingan yang dulu aku cita-citakan, yaitu menjadi guru les privat. Selain itu, aku juga dapat merasakan yang namanya dipinang penerbit. Satu naskah cerita fiksi remaja yang aku publish di wattpad dilamar tiga penerbit. Syukur Alhamdulillah sedikit demi sedikit mimpi ku telah ku gapai.

Dengan ini aku simpulkan bahwa aku telah merasakan realisasi petuah melegenda R.A. Kartini, “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”