Satwa Dilindungi? Manusia Mana Peduli

Menurut data dari WWF (World Wildlife Fund for Nature) perusakan manusia terhadap bumi ini sudah berada pada tingkat yang sangat berbahaya, populasi vertebrata (hewan bertulang belakang) seperti burung,ikan,amfibi,reptil dan mamalia mengalami penurunan sampai ke angka 60% sejak 1970. Bahkan bisa dikatakan melakukan konservasi saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan para satwa yang populasinya kian hari terus menurun. Pada tahun 2019, panelis ilmuwan antar pemerintah menyimpulkan bahwa satu juta spesies (500.000 hewan dan tumbuhan, dan 500.000 serangga) terancam punah, sebagian bahkan akan punah dalam waktu beberapa dekade.

Di Indonesia sendiri kita tahu bahwa banyak sekali satwa yang terancam punah karena ulah manusia yang tidak memikirkan keseimbangan alam, entah itu pemburu,perusak hutan atau orang-orang yang merusak alam untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita tahu Indonesia sendiri adalah negara dengan luas hutan terbesar no.9 dengan luas Kawasan hutan 884.950 km2 ,ini sudah menyiratkan bahwa keragaman hayati di Indonesia sendiri sangatlah besar mulai dari Sabang sampai Merauke. Tapi seiring berjalannya waktu bukannya kita menjaga hutan dan kekayaan kita, kita justru merusak hal-hal yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia ini.

Menurut data banyak sekali Satwa yang hampir punah di Indonesia, contohnya adalah Orang utan. Di Indonesia sendiri terdapat 3 spesies Orang utan yaitu Orang utan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), Orang utan Sumatra (Pongo Abelii) dan Orang utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus), yang ketiga spesies ini sudah terancam punah karena ulah manusia yang melakukan pembalakan liar dan eksploitasi terhadap orang utan, bahkan di Kalimantan sendiri ada yang menjadikan orang utan sebagai pekerja seks komersil (PSK). Lain Orang utan lain lagi Komodo, Satwa bernama latin Varanus Komodoensis ini adalah kadal terbesar di dunia yang terdapat di Pulau Komodo, Berdasarkan hasil evaluasi Balai Taman Nasional Komodo dan Komodo Survival Program (KSP) selama 5 tahun terakhir populasi Komodo berada diantara 2.400 – 3.000 ekor. Beranjak ke daerah Sumatra ada Gajah Sumatra dan Harimau Sumatra yang populasinya semakin menurun dari tahun ke tahun karena pembakaran hutan secara masal di wilayah Sumatra, Harimau Sumatra sendiri sekarang populasinya tidak lebih dari 400 ekor di alam liar, jumlah ini sangatlah berbahaya karna jika kondisinya terus memburuk diperkirakan Harimau Sumatra hanya tinggal namanya saja. Sedangkan Gajah Sumatra saat ini berada di daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan oleh Lembaga konservasi dunia (IUCN) dan menurut data di Taman Nasional Bukit Barisan Populasinya berada di angka 2.000 ekor. Selanjutnya Satwa endemik dari pulau Sulawesi yaitu Anoa yang dalam 10 tahun terakhir ini mengalami penurunan yang cukup drastis, diperkirakan populasinya di seluruh dunia hanya tinggal 2.500 ekor saja. Beralih ke Satwa terbang kebanggaan Indonesia yaitu Jalak Bali dan Cendrawasih yang populasinya menurun terus menerus akibat perburuan liar oleh manusia untuk dijadikan kerajinan tangan atau diperjual belikan di pasar gelap. Dan yang terakhir adalah satwa asal Pulau Jawa yaitu Badak Jawa atau Badak Bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang kian hari juga semakin berkurang karna perburuan liar oleh manusia yang mana culanya diambil dan diperjual belikan di pasar gelap, pada tahun 2019 populasi Badak Jawa ini hanya tersisa 73 ekor, Beruntung tanggal 20 September 2020 kemarin baru lahir kembali sepasang badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.

Dari contoh-contoh diatas dapat kita lihat populasi satwa semakin berkurang akibat ulah kita sendiri. Tak sedikit pula satwa yang sudah punah seperti Harimau Jawa dan Harimau Bali. Pemerintah sudah mengatur semua hal tentang perburuan dan eksploitasi satwa ini dalam peraturan pemerintah no.13 tahun 1994 tentang perburuan satwa buru, UU no.5 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, Permen LHK no. p106 tahun 2018 tentang tumbuhan dan satwa dilindungi serta beberapa peraturan di daerah daerah yang sudah mengatur perlindungan sumber daya alam di Indonesia. Tetapi masih banyak oknum-oknum yang melanggar semua peraturan hanya untuk kepentingan pribadi. Tapi dibalik itu semua kita harus tetap ingat bahwa tidak semua manusia itu jahat, masih ada manusia yang mau perduli dan menjaga kelangsungan ekosistem di bumi ini,sekarang bukan waktunya saling menyalahkan, sekarang bukan waktunya saling mengandalkan, mari kita sama sama membenahi apa yang sudah kita rusak, membangun Kembali ekosistem yang sudah kita hancurkan demi keberlangsungan hidup semua makhluk yang tinggal di bumi ini, Salam Lestari.

 

Penulis : Fadlan Bima H.