Teorema Cinta

Kala kata tak lagi mampu mendefinisikan nya. Maka teorema harus bisa membuktikannya. Tak seperti janji manis yang kadang tak logis, hingga mampu mengurai tangis. Dari sebuah algoritma kehidupan, tentang sebuah pembuktian, kesungguhan, dan keseriusan

Dingin malam mengusik raga, mempertebal rasa kesunyian yang terasa. Aku termenung membaca pesan dilayar kaca. Gemuruh itu menghujam dada. Ku harap kata ‘haha’ bisa menjadi pereda, dalam mencairkan suasana. Saat kata “Maukah?” Itu terlontar. Ia terus berputar. Hingga membuatku gusar. Oh, ku harap malam segera menjemput fajar.

Tak tahan jari ini untuk menahan. Hingga ku kirimkan sebuah pesan. Tak lagi mampu menunggu fajar, ku kirimkan pesan singkat itu pada ibunda. Sayang, pesan itu tak kunjung dibacanya. Hingga membuatku berdebar sendirian.

Pikirku tak hentinya bertanya. Tak menyesal kah ia mengatakannya? Sesuatu yang masih sulit diterima logika. Aku yang tercenung menatap layar, memikirkan kata demi kata. Jangankan cinta. Rupa saja aku tak mengenalnya. Ku hujani ia dengan berbagai pertanyaan. Mengapa, apa, dimana, rasanya seperti wartawan yang sedang mewawancara. Mataku melebar, seketika dadaku berdebar. Kala ia bercerita, ternyata kita pernah bertemu pada acara bertajuk TEOREMA matematika. Ia melihat setiap mimik wajah yang kucipta. Katanya, “kamu terlihat berbeda”. Ku pastikan pipiku bak kepiting rebus kala itu. Aneh. Dari sekian banyak peserta dan wanita, mengapa aku yang berbeda? Identik. Gamis putih bercipratan lumpur itu yang menarik mata, katanya.

Sayangnya, aku bukan seseorang yang mudah percaya. Aku masih menganggapnya guyonan belaka. Namun, terkait itikad nya, sudah ku sampaikan pada ibunda. Kusampaikan pula semua jawaban yang ia berikan atas setiap pertanyaan yang ku ajukan. Hari pertama, bunda berkata tidak. Semua keluarga berkata tidak. Hingga pada hari ketiga aku berdoa, pilihan terbaik mana yang harus ku tempuhnya.

Pagiku masih dipenuhi tanya. Hingga ketukan pintu ku dengar bunda memanggil nama. Membuka pintu dan menghampiriku ditepi tempat tidurku. Ia menatapku. Keseriusan kulihat dimatanya. Ia mengusap ku perlahan dan bertanya “sejauh mana persiapan mu nak?”. Aku menjawab tanpa menatap matanya, ku utarakan sebuah kebingungan hati yang mendominasi. Namun, ku katakan bahwa aku telah memberitahukannya tentang diriku. Tentang kekanakanku. Tentang kelabilanku. Namun ia mengatakan ” Wajar. Aku tak menuntut sempurnamu. Menjadi pasangan adalah untuk melengkapi kekurangan itu.”.

Di hari itu, bunda mengatakan “Suruh dia bertemu bunda dulu. Bunda Ingin ia mengatakannya secara langsung.”. Mataku tak lagi sempat berkedip. Sosok wanita yang ada dihadapanku saat ini, aku sangat mengenalnya. Ku ingat lagi pada suatu masa. Kenangan lama yang terberai. Dimana ada seseorang yang memintaku secara langsung, bahkan menungguku bertahun tahun, tapi tak di izinkannya. Ia menolak dengan tegas. Meski seseorang itu sangat berupaya keras mendapatkan restunya. Membuktikan bahwa ucapannya tidak main main, hatinya tetap tak kunjung luluh memberikan restunya. Dan saat ini, dengan seseorang yang belum genap sepekan aku kenal. Belum hafal rupa dan parasnya. Namun begitu mudahnya mendapatkan izin bertamu ke rumah.

Hari sebelum hari itu tiba. Kakak ku mengatakan bahwa ia akan banyak bertanya padanya. Bertanya babat, bibit, bobotnya. Ia dengan tegas akan mengajukan pertanyaan pertanyaan yang aku rasa akan sulit untuk dijawabnya. Sejujurnya, aku sedikit gentar disana.

Hari itu tiba. Aku ingat, saat itu banjir sedang meraja lela. Hujan turun dengan derasnya. Aku duduk diruangan sebelah, tak berani melihat sosok laki laki yang sedang bercengkrama disana. Namun ku dengar suaranya, diwarnai canda tawa ayah bercerita. Sedangkan aku? Terduduk diam dengan keringat yang sudah membasahi wajah. Namun, kulihat sosok disampingku, kakak yang kemarin lusa katanya ingin bertanya, kini ia pun diam seribu bahasa. Menyimak setiap kata yang keluar dari sana. Tanpa menolehku, ia berkata “kakak setuju dia untukmu”. Aku yang sedari tadi menunduk, menoleh ke arahnya dengan wajah tak percaya. Rasanya obrolan itu sangat lama. Namun diakhir pembicaraan, aku gemetar dibuatnya. Kala ayah berkata ” Bagaimana jika 3 hari kedepan, kalian bertunangan?”. Nafasku amat memburu. Gemuruh itu tak lagi dapat terbendung. Sungguh, aku berdebar menunggu kalimat yang akan ia katakan selanjutnya. Bagaimana tidak? 3 hari setelah pertemuan, dilangsungkan pertunangan. Saat itulah keseriusan nya diuji. Dan ia mengakhiri dengan kalimat “siap. Akan saya bawa keluarga besar saya tiga hari kedepan.”

Dari sana aku menemukan sebuah bukti. Tidak hanya sebuah kata yang diiringi janji. Seorang laki laki yang berani mendatangi wali. Tanpa basa basi lagi. Hari demi hari ku lewati dengan penuh kebingungan. Antara percaya atau tidak. Aku mendengar ceritanya, kala ia berkata berawal dari pertemuan pertama. Acara TEOREMA yang juga menjadi wasilah cinta. Teorema yang bukan hanya teori semata, namun juga pembuktiannya. Padahal, sebelum ia datang ke rumah, rupa wajahnya tak pernah ku terka. Ia pernah mengirimkan sebuah lagu untukku. Lagu yang katanya mewakili semuanya. Lagu itu berjudul “Melamarmu”. Entah apa yang membuatku tersentuh hingga di bait “Jadilah pasangan hidupku. Jadilah ibu dari anak anakku. Membuka mata, dan tertidur disampingku.” Aku menitikkan air mata. Hingga detik ini, kala ku putar lagi lagu itu, semua terasa terngiang. Kala ia memintaku menjadi penyempurna agamanya.

Pagi itu, bukan lagi berdebar yang kurasa. Hingga senyumku kaku tercipta. Kala mic itu bersuara, dibalik tirai itu aku berdoa. Atas keputusan yang telah disepakati bersama. Dibalik tirai itu, ibunda memegang tanganku erat. Seolah inilah detik detik perpisahan yang nyata. Perpindahan sebuah tanggung jawab hidup seorang wanita. Dan ketika semua berkata “sah” Rasanya ada yang lepas dari jiwa. Ia segera menjemputku dibilik sana. Senyum ku terasa lepas di sana. Ku kalung kan ia sebuah bunga, dan dengan gemetar, ku raih tangan yang sebelumnya tak pernah ku sentuh, untuk ku cium sebagai tanda penghormatan. Mungkin ia merasakan bagaimana dinginnya tanganku, sebab akupun merasakan bagaimana basahnya kucuran teringat ditangannya.

Kadang, kita mudah percaya hanya lewat kata. Hati mudah menerima meski belum bertemu fakta. Hingga tangis kehilangan tak terelakkan bahkan sebelum sempat mendapatkan. Padahal, rasa tidak bisa diwakili begitu saja oleh kata. Perlu teorema dan analisis nyata untuk membuktikannya. Terlalu cepat menerima hipotesis, tanpa analisis, kemungkinan besar untuk kecewa diiringi tangis. Terlalu mudah menyimpulkan sebuah rasa, dan berharap besar terhadapnya. Padahal Cinta bisa terbukti hanya dengan ikatan suci, dimana ia tidak lagi di fase memilih, tetapi juga melabuhkan hati.

 

Penulis : Nur Jannah (Club Writer)