Truth or Dare

Sudah tidak asing ketika mendengar istilah “Truth or Dare” atau biasa disingkat menjadi ToD yang merupakan sebuah permainan cukup populer di Indonesia. Permainan ini melibatkan pilihan para pemain, jika memilih truth atau kejujuran maka mereka harus mengungkapkan sebuah kebenaran yang bersifat faktual. Sedangkan, jika memilih dare atau tantangan maka mereka harus melakukan suatu tindakan yang membutuhkan keberanian. Tapi, tahukah kalian bahwa konsep permainan ini diterapkan juga di bidang pendidikan. Bahkan, konsep permainan ini sudah terbiasa terjadi di dalam kehidupan kita lho.

Bagi kalian yang pernah mengikuti olimpiade bidang akademik pasti tidak asing dengan peraturan yang diterapkan saat mengerjakan soal yaitu jika menjawab soal dengan benar maka mendapat poin 2, untuk jawaban salah maka mendapat poin -1, dan poin 0 jika tidak menjawab. Lalu, apakah hubungan ToD dengan peraturan yang diterapkan saat olimpiade bidang akademik?

Pada saat olimpiade kita dihadapkan dengan situasi dimana harus memilih antara menjawab atau tidak menjawab soal yang diberikan. Secara tidak langsung, pilihan itu mengarahkan mindset kita untuk memilih antara jujur mengakui jika kita tidak dapat menjawab soal dengan risiko mendapat poin 0 atau berani mengambil resiko kerugian mendapat poin -1 jika menjawab salah. Dalam hal ini, bukan berarti kejujuran tidak bernilai karena mendapat poin 0. Sebab, saat dilihat dari sudut pandang yang berbeda pilihan jujur tersebut dapat menyelamatkan kita dari poin -1.

Dapat di kaitkan juga dengan kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah diketahui, dalam hidup seringkali kita dihadapkan dengan beberapa pilihan untuk memperjuangkan masa depan. Baik itu harus memilih antara tetap berada di zona nyaman atau harus keluar dari zona nyaman. Ternyata tanpa sadar kita sudah terbiasa dihadapkan pada pilihan antara kejujuran atau tantangan. Jika kita pahami lebih dalam lagi, kejujuran merupakan sikap moral yang perlu pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bagi sebagian orang tidak mudah melakukan hal tersebut. Begitu pula dengan orang yang lebih memilih tantangan, keberanian yang dimiliki patut di apresiasi karena tidak sedikit orang yang ragu akan kemampuan yang dimiliki.

Tak jarang dengan adanya pilihan antara kejujuran atau keberanian mengambil risiko, sebagian orang mengaitkan dengan peribahasa “Bagai makan buah Simalakama” yang bermakna sebagai suatu situasi atau kondisi yang serba salah. Biasanya orang yang memandang pilihan yaitu situasi atau kondisi serba salah adalah orang yang penuh ketakutan dan keraguan. Ia takut bahwa kejujuran akan membawanya menuju risiko terburuk dan ia pun ragu bahwa dapat melewati tantangan dengan baik sehingga bisa memperoleh hasil terbaik atau hadiah atas keberhasilannya melewati tantangan yang diberikan. Oleh karena itu, pentingnya mempunyai kepercayaan diri dan keberanian sangat di perlukan dalam menjalani kehidupan ini. Supaya tidak ada keraguan dalam setiap langkah kita karena hal tersebut ditimbulkan dari rasa takut saat ada situasi yang berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Ternyata konsep permainan “Truth or Dare” atau ToD sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita. Tetapi, perlu diingat bahwa pilihan yang kita ambil saat ini adalah penentu masa depan kita. Jadi, hendaklah sebelum memilih kita perlu mempertimbangkan baik buruknya pilihan tersebut agar dapat memudahkan perjalanan hidup kita kelak. Setiap pilihan juga tidak lepas dari resiko karena tidak ada pilihan yang tanpa risiko. Oleh karena itu, sebaiknya sebelum mengambil sebuah keputusan dari pilihan yang ada di hadapan kita hendaklah dipikirkan terlebih dahulu agar tidak memicu tumbuhnya rasa ragu dan takut dalam diri kita. Semangat!!!

 

Penulis : Andini Candraningtyas (Club Writer)