Untuk Diriku

Untuk Diriku,

Terima kasih telah bertahan sampai hari ini. Kamu berhasil mengatasi ketakutan – ketakutan yang bersarang dalam pikiranmu. Kamu juga telah melewati pasang surut emosi yang terkurung dibalik dinding rumahmu.

Ada seribu cara membalaskan dendam hari itu, ada jutaan bisikan jahat yang membawamu pada kemarahan hari itu.

Terima kasih, kamu memilih untuk menangis tanpa harus mengutuk keadaan. Tangisan hari itu begitu berarti sampai hari ini.

 

Untuk Diriku,

Terima kasih, kamu masih tetap berharap untuk esok yang lebih tenang, walaupun tidak ada ketenangan bahkan sedetik jarum jam berputar.

Ada banyak bukit dan lembah dalam setiap menit dalam hidup, lalu berharap untuk hari esok bukanlah perkara mudah. Menyerah bukan hanya ada di depan matamu, bahkan di setiap sudut pikiranmu selalu ada kata menyerah.

Terima kasih, untuk tidak menyerah sampai hari ini.

 

Untuk Diriku,

Keputusan yang terkadang keluar melalui emosi, membuat keadaan yang terpuruk semakin hancur. Yang di lakukan manusia hanyalah menyesali. Terima kasih, kamu tetap menerima, walaupun penyesalan itu masih terpatri dalam hati kecilmu, kamu masih dan terus berusaha untuk memperbaiki.

Terima kasih juga, atas jutaan kesabaran yang selalu hadir untuk menutupi marah demi marah yang bisa saja melukai dirimu sendiri.

 

Untuk Diriku,

Walaupun kamu selalu merasa tak berharga di setiap detik dalam hidupmu, terima kasih untuk tetap melakukan hal yang berharga dan bermanfaat untuk orang lain. Seperti kata-kata yang selalu kamu ucapkan “hidup ini bukan hanya tentang dirimu sendiri”.

Selalu memikirkan orang lain di atas beban mu sendiri. Kamu luar biasa dalam hidup ini, kamu adalah kebaikan untuk sebagian kecil dari mereka yang ada dalam hidupmu.

 

Tak peduli seberapa dalam samudra, saat terjebak di dalamnya yang di lakukan adalah bertahan agar tetap bernyawa.

Terima kasih diriku sendiri, kamu begitu hebat sampai hari ini. Hal terkuat yang pernah kamu lakukan adalah bertahan sampai hari esok dan berharap kebaikan dari doa di setiap subuh dan petang. Bukannya ada yang harus kamu bahagiakan ? Bukannya mimpi mu di hari ini bukan hanya milik dirimu ? Bukannya bahagia mereka lebih berarti 1000 kali lipat ?

 

Penulis : Atikah Dhani A. (Club Writer)