Untuk Jiwa Yang Sedang Merintih

“Tak apa hari ini kita sakit, besok berjuang lagi ya.”

Terdengar klise, tapi sebuah kalimat yang sangat ampuh untuk bangkit.

 

Hari-hari kita pasti dipenuhi oleh naik dan turunnya emosi maupun perasaan. Tak bisa dipungkiri dalam setiap detiknya kita bisa merasakan senang, sedih, kesal, marah, cemburu, dan emosi-emosi lainnya yang datang silih berganti. Hari ini kita bahagia. Ternyata, malah besok ada yang bikin kesal. Lalu, beberapa minggu setelahnya kita dibuat hancur, sedih, dan kecewa. Menyebalkan, ya.

 

Hal itulah yang dinamakan hidup. Dalam setiap perjalanannya, akan selalu ada konsekuensinya. Masalah dan cobaan akan terus berdatangan. Ketika kita memilih pilihan A, maka resikonya A, tapi bisa juga B. Kita memilih C, masalah yang datang akan seperti D. Kita selalu merasa terombang-ambing, diterpa ketidakpastian yang sulit kita jalani. Seperti itu secara terus-menerus karena “mereka” ingin menguji kesanggupan kita dalam berjuang dan bertahan. Untuk apa, sih? Kok berat banget rasanya.

 

Jawabannya simpel banget, nih, karena kita adalah manusia. Kita semua tau kalau manusia itu diberkati oleh nikmat yang luar biasa banyak oleh Allah swt. Lalu, apa dengan hidup yang lancar-lancar aja kita akan memaksimalkan potensi tersebut? Kita pasti sudah tahu jawabannya. Sebenarnya yang terpenting adalah sesimpel Allah pengen kita terus mengembangkan minat dan bakat kita. Dalam kata lain, Allah pengen kita terus mengeksplor nikmat yang sudah diberikan dan selalu mensyukuri apa yang sudah kita dapat. Allah ingin yang terbaik untuk hamba-Nya.

 

Tapi, pernah dong kita semua merasa benar-benar capek. Tidak semua orang melalui jalur yang sama dan tidak semua orang berjuang di medan juang yang sama. Ada orang yang bermasalah dengan keluarganya, setiap hari terjadi keributan dan tidak ada ketenangan di rumah. Capek? Ya. Di sisi lain, ada orang yang menjadi bahan olok-olokan di lingkungannya, padahal mereka tidak berbuat salah. Capek? Banget. Pada bagian dunia yang lain, orang-orang menahan rasa sakit, entah fisik atau mental dan tak ada seorang pun yang bisa mendengarkan atau peduli. Capek? Parah! Masih banyak contoh lain yang menyadarkan kita bahwa hidup itu sendiri adalah medan juang di mana masing-masing dari kita menjadi komandan “perang” di kehidupan kita sendiri.

 

Satu hal yang perlu diingat dan ditanamkan. Kita adalah manusia, bukan robot. Wajar saja jika kita merasa capek. Wajar saja jika kita merasa gundah. Wajar saja jika kita merasa terbebani dan tersiksa dengan segala hal yang melelahkan di dunia ini.

 

Sekarang, kita berbincang bersama sebagai manusia, yuk. Hai, kita yang sudah berjuang sampai sejauh ini. Apa kabar? Bagaimana luka di hatimu? Apakah sudah membaik? Kita sudah berusaha dengan semaksimal mungkin, kok. Tetap semangat, ya! Kita sama-sama berjuang. Tidak ada yang berjuang sendirian. Terima kasih kepada semua insan yang sudah bersusah payah hingga detik ini. Perjuangan kita patut diapresiasi. Segala hal yang kita lakukan adalah pengorbanan. Semuanya sangat bernilai harganya. Walaupun cuma kecil perubahannya, yang terpenting kita tetap mengalami kemajuan. Kita sudah melakukan yang terbaik! Saat mengalami kemunduran pun, tidak apa-apa. Segala bagian dari hidup ini adalah keajaiban. Kesedihan kita pada hari ini bisa menjadi senyuman manis yang menawan nantinya.

 

Berbicara mengenai kemunduran dan kegagalan, pasti semua orang pernah mengalami hal ini. Sudah belajar capek-capek, tapi nilai masih jelek. Sudah berusaha diet, tapi kok berat badan malah naik terus. “Aku perasaan lebih baik daripada dia deh, kok dia yang dapet juaranya”, seru seseorang dalam hatinya. Hayo, sering tidak kalian seperti ini? Sebagai manusia, wajar banget kita punya rasa iri dan rasa kecewa. Akan tetapi, kita harus merefleksikan kembali kepada diri kita bahwa semua orang memiliki waktu dan perjalanannya sendiri. Yuk, dari sekarang cukup membanding-bandingkan diri kita kepada orang lain. Gagal hari ini, masih ada hari esok yang menanti. Sekarang adalah waktunya kita untuk berpikir apa yang bisa kita lakukan dan merencanakan apa yang ingin kita capai.

 

Pernah ada suatu kalimat yang sangat menginspirasi sebagai seni dalam menerima kegagalan.

Kehidupan kita diibaratkan seperti sedang merajut. Kita meniti satu per satu perjalanan untuk membuat sebuah pencapaian. Tak jarang kita menjumpai benang yang kusut, seperti halnya kehidupan kita seringkali menemukan kendala yang menyulitkan pikiran. Namun, dengan gigihnya kita tidak akan berhenti. Perlahan-lahan, kita urai benang kusut tersebut sehingga kita mampu melanjutkan proses merajut. Hingga pada akhirnya, kita berhasil mencapai kepuasan dalam membuat pakaian yang indah. Seperti itulah perumpamaan kita dalam menerima segala kelebihan dan kekurangan kita. Semua itu adalah bagian dari perjuangan. Saat kita meniti perlahan dan tertatih-tatih kegagalan dan kesalahan, kita akan belajar untuk menjadi seseorang yang lebih luar biasa kuat dan berpengalaman dalam menghadapi masalah yang sama atau lebih besar. Sampai pada saatnya, kita akan menikmati hasil dari gigihnya perjuangan kita sampai bisa mencapai manisnya hidup dengan tercapainya mimpi-mimpi yang selama ini kita dambakan.

 

Selanjutnya, seni dalam berusaha. Teruslah lakukan yang terbaik dan berjuang untuk hal-hal kecil. Pasti semua orang memiliki mimpi dan tujuan dalam hidup ini. Sesimpel, “ah, besok aku mau jajan bakso deh”. Hal inilah yang menjadi bahan bakar kita untuk terus melanjutkan hidup. Kita masih ingin, kan makan mie malam-malam dibarengi telur rebus? Nah, karena alasan sesimpel ini atau mungkin kita punya mimpi besar lain untuk menjadi pengusaha atau menjadi kaya raya, merupakan sebuah pemacu bagi manusia untuk bertumbuh dewasa hingga ajal yang memisahkan kita dengan mimpi-mimpi tersebut. Semua hal tidak selalu langsung besar, kan? Maka dari itu, perlahan-lahan, tapi pasti.

 

Perlu diingat, poin utama dalam hidup ini adalah jalani dengan sepenuh hati. Hidup cuma sekali. Untuk apa jika hati tidak sudi? Sekarang, fokuslah pada kemampuan kita. Mari kita sama-sama menjadi versi terbaik dari diri kita. Lakukan tiap-tiap hal terbaik yang ingin dilakukan. Bantulah sesama jika kita mampu karena kita tidak pernah tahu kebaikan atau orang mana yang akan menolong kita dalam kesusahan nanti. Lalu, jauhi dendam dan amarah. Dendam dan amarah ibarat kita membawa beban dalam keseharian kita. Jika semakin lama disimpan, malah akan menyulitkan kita untuk bernapas dengan lega dan bahagia dengan hal-hal kecil di sekitar kita. Jadilah sosok yang mampu memaafkan karena keindahan jiwa yang hakiki datang dari hati yang murni. Murni akan cinta perjuangan dan kedamaian.

 

Sebagai penutup, jawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Sudahkah kamu berterima kasih pada hatimu hari ini?

Sudahkan kamu tersenyum pada dirimu hari ini?

Sudahkah kamu melakukan apa yang ingin kamu lakukan?

Sudahkah cukup kamu bahagia atas segala kesedihanmu?

 

Pesan dalam artikel ini adalah tunjukkanlah siapa diri kita dengan bersikap jujur terhadap hati  dan kehidupan itu sendiri. Hingga waktunya tiba, kita akan bisa berlari dan tersenyum bahagia seraya berkata, “ya, inilah aku yang tercipta dari luka.”

 

Kutipan terakhir untuk selalu bahagia pada diri sendiri:

“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.”

Dee, Rectoverso

 

 

Penulis : Izzudin (Club Writer)