Emotional Self Care

Halo sobat perHITUNGan! Wahhh pasti sekarang lagi semangat banget ya buat mencari pengalaman dan mengulik hal-hal menarik untuk dijadikan pelajaran. Tapi terkadang, secara tidak sadar, kita terlalu asik dengan dunia kita dan terlena akan emosi diri. Setiap perjalanan pasti akan menemukan titik jenuh dan perasaan lelah terhadap apa yang sedang kita kerjakan saat ini. Ingin mundur? Tentu tidak. Karena apa yang sudah kita jalani, itu lah yang sebelumnya kita pilih. Lalu bagaimana cara mengontrol emosi diri? Yukk simak ulasan berikut!

  1. Menyeimbangkan mood

Ternyata menyeimbangkan mood itu perlu loh, Sobat! Dalam menjalani kegiatan apapun, sebaiknya kita lakukan dengan tulus tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Time schedule antara pekerjaan dan hobby yang balance, bisa menyeimbangkan mood kita loh! Misalnya dari pagi hingga sore kita larut akan pekerjaan, namun di malam hari-nya kita bisa me time, seperti menulis jurnal, movie night, dan hal lainnya yang menjadi hobby sobat!

 

  1. Memaafkan diri sendiri

Terkadang terlalu memikirkan orang lain juga akan menyakiti diri sendiri, seolah kita lupa bahwa achievement yang sudah kita dapatkan dan patut diberi apresiasi, tersingkirkan oleh hal kecil yang dipikirkan terus menerus. Sudah sepantasnya kita belajar untuk mulai memaafkan diri sendiri, karena sejatinya salah satu kunci untuk menjadi bahagia adalah dengan memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah dilakukan.

 

  1. Memberikan afirmasi positif ke diri sendiri

Menyemangati diri sendiri ternyata hal yang paling mudah dilakukan namun sering terlupakan. Lagi dan lagi, kita terlalu larut dalam kemungkinan terburuk di masa depan dan cenderung pesimis terhadap apa yang sedang kita lakukan. Semua pemikiran itu sudah sepatutnya kita hilangkan secara perlahan dan menanamkan mindset bahwa “setiap usaha yang saya lakukan akan membawa hasil yang baik”. Memberikan afirmasi positif ke diri sendiri dan mengucap rasa syukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan sudah seharusnya kita terapkan dalam kehidupan nyata.

 

Wahhh 3 poin penting tersebut dapat kita gunakan untuk mengontrol Emotional Self Care ya, Sobat! Yakinlah terhadap setiap perjalanan yang kamu pijaki, cintailah diri sendiri untuk menerima apa yang terjadi dengan segala kekurangan yang ada. Ingatlah bahwa hidup adalah perjalanan. Semakin jauh perjalanan yang kamu lalui, semakin tahu seberapa besar potensi diri yang kamu miliki.

Rasa Yang Tak Terbalas

Rasa Yang Tak Terbalas

Gemuruh suara penonton yang berteriak hingga suara mereka serak mewarnai pentas seni sekolah SMA Tunas Angkasa sore hari ini. Sayup – sayup suara mereka terdengar hingga sampai ke belakang backstage. Guest star yang mengisi acara pun senang karena antusiasme penonton yang sangat heboh atas penampilan panggungnya. Ganindrakara Kusuma atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kara, siswa kelas 12 yang diberkahi wajah tampan, tubuh tinggi, memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, dan tegas serta berwibawa. Ia adalah ketua pelaksana pada pentas seni sekolah tahun ini. Sepanjangan acara ia sibuk mengawasi seluruh elemen yang terlibat di pentas seni kali ini. Sesekali ia membantu para panitia agar acara dapat berjalan sesuai rencana dan tidak ada hambatan hingga acara selesai.

Satu minggu setelah pentas seni sekolah, pembelajaran kembali seperti sediakala. Kara yang seperti biasa datang ke sekolah mengendarai motor kesayangannya. Belum sampai di parkiran Kara sudah ditunggu oleh kedua sahabatnya, Arman dan Fadel. Sahabat yang ia temui sejak kelas 10. Arman Irawan siswa humoris dengan kelakuan petakilannya dan Fadel Ardian siswa dengan sikap yang dingin tapi paling mengerti keadaan sahabatnya. Sebelum masuk kelas biasanya mereka akan pergi ke kantin dulu, menemani Kara untuk sarapan. Dari kejauhan ia nampak melihat sesuatu yang berbeda, seorang siswi yang sedang membeli roti di salah satu ibu kantin, siswi yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Kara pun bertanya pada Arman dan Fadel siapa siswi itu.

“Siapa siswi itu? Kenapa baru kali ini Kara melihatnya.”

“Ohhhh dia siswi kelas 10, memang jarang keluar kelas apalagi ke kantin,” jawab Fadel

“Iya benar dia itu lebih sering di kelas untuk baca buku, mungkin karena masih pagi makanya dia ke kantin,” timpa Arman

Amaira Kiera Azzahra nama dari murid yang sedang dibicarakan Kara dan kedua sahabatnya itu. Kiera panggilan akrabnya siswi bertubuh mungil dengan rambut pendeknya, pintar dan baik hati. Lebih suka menghabiskan waktu di kelas untuk membaca buku daripada bergaul dengan teman sekelasnya. Namun pembicaraan itu sentak langsung berhenti ketika bel sekolah telah berbunyi. Kara dan sahabatnya langsung bergegas menuju ruang kelas disertai dengan Kiera yang beranjak menuju ruang kelas. Banyak siswi sekolah yang jatuh cinta pada sosok Kara, namun tidak ada satupun yang berhasil untuk mendapatkannya karena Kara tidak tertarik untuk berpacaran. Semua itu terlihat berubah ketika Kara pertama kali melihat Kiera, ia merasakan ada suatu perasaan yang berbeda,

“ Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama,” tanya Kara pada dirinya sendiri.

Bel pulang sekolah pun berbunyi menandakan pelajaran hari ini telah berakhir. Kara yang berharap bisa berkenalan dengan Kiera, bergegas menuju gerbang utara sekolah untuk menemuinya dengan meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja. Arman dan Fadel yang kebingungan melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Kara yang terlihat berbeda. Benar saja mereka melihat Kara sedang duduk di pos satpam terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

” Lagi nungguin siapa sih Kar?” tanya Fadel sembari duduk dan merangkul pundak Kara.

“Lagi nunggu Kiera ya?” timpa Arman dengan nada bercanda.

” Hmmmm… enggak lagi nunggu siapa-siapa kok,” jawab Kara dengan wajah kebingungan

Karena Kara adalah sahabatnya jadi mereka langsung percaya begitu saja dan pamit pulang duluan. Fadel yang bangun dari duduknya langsung berjalan meninggalkan Kara.

” Hati-hati diculik tante-tante loh,” teriak Arman sembari berjalan bersama Fadel

Sudah hampir 20 menit menunggu tak ada tanda-tanda Kiera pulang melewati gerbang ini Sehingga Kara memutuskan untuk pulang saja tapi saat berjalan menuju parkiran ia melihat salah seorang teman sekelasnya Kiera dan langsung bertanya padanya,

” Hai Yun, Apakah Kiera sudah pulang?.”

“Eh iya kak, Kiera sudah pulang dari tadi memangnya ada apa ya kak? ” jawab Yuni

“Kakak yang sudah hampir 20 menit disini tapi tidak melihat Kiera melewati gerbang ini,”kata Kara yang kebingungan

“Oalah Kiera kan emang bisanya lewat gerbang selatan sekolah, karena lebih dekat arah rumahnya. Eh kak Yuni duluan ya sudah dijemput ayah,” balas Yuni sambil tergesa-gesa karena Ayahnya sudah menjemput

” Yasudah terimakasih ya Yun,” Ucap Kara sambil diiringi langkah kaki ke motor di parkiran.

Kara yang di sepanjang perjalan ke rumah masih penasaran untuk berkenalan langsung dengan Kiera. Keesokan harinya ia berusaha datang lebih awal untuk menemui Kiera, karena kemarin ia tahu Kiera pulang melewati gerbang selatan maka dari itu ia langsung menuju kesana untuk menunggunya, tapi setelah sampai di gerbang ia kebingungan karena pintu gerbangnya tertutup rapat. Ternyata ia lupa kalau gerbang selatan hanya dibuka saat pulang sekolah saja, saat masuk sekolah hanya gerbang utara saja yang terbuka.

Seperti biasa walau Kara datang lebih awal tapi tetap saja ia ditunggu oleh kedua sahabatnya. Setelah memarkirkan motornya Kara langsung bergegas menuju kantin berharap ia bisa bertemu dengan Kiera. Arman dan Fadel pun bingung tidak seperti biasanya ia terburu-buru ke kantin, biasanya juga mengajak mereka untuk kesana bersama. Sesampainya di kantin Arman pun bertanya pada Kara,
“Tumben banget ke kantin buru-buru biasanya juga nyantai jalannya.”

“Eh engga, ini lagi laper banget mau sarapan dulu,” jawab Kara dengan lirikan mata seperti sedang mencari seseorang.

“Bilang aja lagi nyari Kiera kan siswi yang kemarin beli roti itu, keliatan tuh dari matanya kek lagi nyari seseorang aja,”balas Arman dengan pukulan tangan ke pundak Kara

Telolet… telolet.. telolet.

Bel sekolah pun berbunyi. Bel yang terinspirasi dari suara klakson bus yang sempat viral pada tahun 2016.

“Eh udah bel tuh, ayo langsung masuk kelas aja,” ucap Kara dengan wajah yang ketakutan

Karena bel sudah berbunyi seluruh siswa yang ada di kantin pun membubarkan diri dan menuju ruang kelasnya masing masing termasuk Kara dan kedua sahabatnya. Selama pelajaran Arman memperhatikan Kara karena ada yang aneh pada Kara akhir-akhir ini.

“Itu Kara kenapa ya del,” tanya Arman pada Fadel karena rasa keponya terhadap Kara.

“Biarin aja sih, perhatiin tuh guru masih jam pelajaran juga,”balas Fadel dengan mata sinisnya.

Saat pulang sekolah Kara langsung bergerak cepat menuju gerbang selatan sekolah berharap bisa bertemu dengan Kiera. Arman dan Fadel yang penasaran akhirnya membuntuti Kara dan memantau gerak-gerik Kara dari kejauhan di balik salah satu gedung sekolah. Pandangan Kara yang tengah melihat seluruh orang yang melewati gerbang tapi ia tidak melihat Kiera melewati gerbang ini.

“Apa iya kiera pulang lewat gerbang utara sekolah?” suara hati Kara berbicara

Kara langsung bergerak secepat kilat melalui lorong gedung sekolah menuju gerbang utara. Ia pun langsung bertanya satpam sesampainya di sana.

“Permisi Pak, apakah melihat Kiera sudah pulang melewati gerbang ini?” tanya Kara dengan nafas ngos-ngosan.

“Eh Kara, bapak tidak melihatnya dari tadi disini,” ucap Pak Heri Satpam sekolah sembari mengatur kepulangan anak-anak.

Saat Kara sedang mengobrol dengan Pak Heri. Ia tidak sengaja melihat kembali Yuni yang sedang berjalan bersama temannya. Kara yang penasaran langsung bertanya pada Yuni,

“Eh yun, lihat Kiera tidak? Dari pagi dia tidak kelihatan sampai sekarang pulang sekolah,”

“Eiya kak, hari ini Kiera tidak masuk sekolah kara ia izin sakit. Katanya sih dirawat di
rumah sakit,” balas Yuni sambil di tarik temannya untuk cepetan ngobrolnya

“Oh gitu ya, boleh minta kontak Kiera tidak?”kata Kara sembari memberikan
handphonenya ke Yuni

“Boleh kak,” ucap Yuni sambil mengetik nomor Kiera di handphone Kak Kara.

“Makasih yah Yun,” kata Kara dengan wajah gembira.

“Sama-sama kak, Yuni duluan ya kak,”ucap Yuni diiringi langkah kaki meninggalkan
Kara.

Kara yang langsung beranjak pulang dengan motor kesayangannya. Sesampainya di
rumah Kara langsung masuk dan menutup pintu kamarnya. Ia langsung membuka handphonenya lalu menelpon Kiera berharap ia bisa mengobrol dengannya. Tapi harapan itu sirna ketika teleponnya tidak kunjung diangkat oleh Kiera. Dari sini ia berpikir apakah ini akhir dari perjalanan cintanya atau hanya sebatas ujian untuknya.

Keesokan harinya saat di kelas Kara terlihat dengan wajah murung, dan seketika
menjadi orang yang pendiam bahkan saat jam pelajaran ia melamun entah sedang memikirkan apa. Ibu guru yang sedang membahas soal latihan lalu menunjuk Kara untuk membantu menjawab. Tapi Kara tidak meresponnya. Fadel yang duduk semeja dengan Kara berusaha untuk menyadarkan karena bu guru dari tadi telah memanggil dirinya.

“Kara… Karaaa dipanggil tuh ama bu guru disuruh jelasin, “kata Fadel sambil
menggoyangkan pundak Kara.

“Arghhhh,” sahut Kara dengan kencang sambil menggebrak meja hingga membuat
seluruh teman sekelasnya menoleh ke arahnya.

“Kamu kenapa Kara? Kenapa sampai menggebrak meja itu?”ucap bu guru sambil
mendekati Kara.

“Maaf bu karena kaget jadinya reflek menggebrak meja deh,”kata kara dengan wajah
yang malu usai perbuatannya.

“Yasudah perhatikan pelajaran saat ini,”ucap bu guru di iringi langkah kaki
meninggalkan Kara.

Karena kara sedang tidak fokus akhirnya bu guru menunjuk siswa lain untuk maju kedepan mengerjakan soal di papan tulis. Fadel yang kaget atas respon yang ia terima, langsung bertanya yang sebenarnya terjadi pada kara,

“Lagi ada masalah apa kar?”kata fadel sembari menenangkannya atas kejadian itu.

“Iya nih lagi ada masalah, sebenarnya dari kemarin tuh kara lagi nyariin kiera cuman ga ketemu-ketemu, hingga kemarin sudah dapat kontaknya berusaha untuk menghubunginya tapi tidak ada jawaban sama sekali,”sahut kara dengan wajah yang sedih.

“Bener kan lagi nyari in kiera,” sambung arman

Fadel dan Arman yang berusaha untuk menghibur kara akhirnya mengajaknya ke kantin. Secara tidak langsung ternyata di kantin Arman tidak sengaja melihat Kiera sedang jajan bersama temannya. Ia pun langsung memberitahu Kara bahwa ada Kiera di kantin, tapi Kara tidak meresponnya sama sekali. Kara yang merasa sudah tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan hati kiera.

Pada suatu malam tanpa ada angin dan hujan tiba tiba handphone kara berdering saat dilihat ternyata yang menelponnya adalah Kiera. Ia yang sumringah langsung saja mengangkatnya dan berbicara padanya. Ternyata Kiera ingin meminta maaf karena saat itu tidak mengangkat teleponnya karena saat itu handphonenya tertinggal di rumah dalam keadaan low battery. Saat ia ingin menghubunginya balik ia bingung karena banyak nomor yang belum ia save. Akhirnya ia bisa menghubungi karena akhir akhir ini Kiera sering mendengar nama Kara akibat teman sekelasnya Yuni memberitahu bahwa Kara siswa kelas 12 mencarinya selama dua hari berturut turut.

Setelah kejadian itu Kara dan Kiera semakin dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sebelum perpisahan kelulusan Kara bertanya pada kiera apakah ia bersedia untuk datang di acara perpisahan kelulusannya. Kiera langsung menjawab iya dia akan datang pada momen itu dan membawakannya bunga. Benar saja saat perpisahan kelulusan kelas 12 berlangsung dia datang membawakan bunga yang indah dan cantik sekali. Kara yang semakin yakin bahwa rasa yang ia taruh pada kiera akan terbalas, karena selama ini kiera masih belum membalas cintanya.

Satu bulan berselang setelah perpisahan kelulusan. Kara berniat untuk menjemput Kiera dan mengantarkannya ke sekolah. Ia memang sengaja tidak mengabarinya terlebih dahulu agar terkesan surprise untuknya. Sepanjang perjalanan Kara berusaha merangkai suatu rayuan untuknya agar rasanya dapat terbalas. Belum sampai di rumah Kiera, ia sudah bisa melihat dari kejauhan Kiera sudah berada di depan rumahnya. Ia semakin yakin bahwa kata hati kecilnya jika hari itu rasanya akan terbalas. Sesampainya di depan rumah Kiera, Kara langsung menyapanya, menyapa dirinya bercanda tawa dengan dirinya, namun apa yang dirasa Kara tak kuasa, Kara tak tau harus berkata apa
INIKAH NAMANYA CINTA
OH INIKAH CINTA
CINTA PADA JUMPA PERTAMA
(Me – Inikah Cinta)

Belum sempat Kara mengeluarkan rayuannya tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor mendekat ke arah rumah Kiera. Saat suara motor semakin dekat, Kiera pun terlihat seperti memanggil pengendara motor itu. Ketika sampai si pengendara langsung memberikan helm pada Kiera. Kara yang melihat itu berpikir mungkin saja ojol yang lagi tidak make seragam. Tapi dengan mudahnya Kiera berkata bahwa pengendara motor itu adalah pacarnya, yang sudah hampir 3 bulan jadian. Kara yang mendengar itu langsung dari mulut Kiera seketika kaget dan tidak percaya. Hati kecilnya hancur bagai kaca yang terjatuh ke lantai dari ketinggian hingga porak poranda. Tapi Kara berusaha untuk tidak terlihat sedih di hadapan mereka. Terlintas di pikiran Kara, berarti ketika perpisahan Kiera sudah ada yang memiliki, tapi Kiera tetap menyempatkan hadir di acara itu.

“Apa yang membuat Kiera tetap hadir di acara perpisahan kelulusan walau sudah ada seseorang di hatinya,”tanya Kara pada Kiera dengan hati yang sedang kacau

“Karena Kiera sudah berjanji untuk bisa hadir di perpisahan Kara,”ucap Kiera tanpa ada rasa bersalah.

Atas jawaban itu hati kara benar-benar hancur lebur. Sebelum ia izin pamit untuk pergi, ia terlebih dulu telah di tinggalkan mereka berdua.

Kara yang sedang dalam keadaan patah hati memutuskan untuk menenangkan pikirannya dengan menyendiri di taman dekat rumahnya. Saat sedang menangisi keadaan yang sangat pahit, tiba tiba ada uluran tangan yang tengah memegang sapu tangan muncul di depan wajah kara. Kara yang langsung melihat itu segera mengambilnya. Ia terlihat gembira karena ia berpikir apakah ini malaikat yang tuhan kirim untuknya. Rasa sedih kara mulai hilang karena kehadiran sosok perempuan di hadapannya. Harapan untuk rasa yang terbalas mulai muncul kembali pada pandangan pertama. Rasanya Kara langsung ingin memeluknya, namun belum sempat memeluknya dari kejauhan terdengar teriakan bunda dari anak kecil laki laki yang tertuju pada perempuan di hadapan kara yang diikuti laki-laki dewasa di belakangnya. Sontak kara langsung menoleh kearah itu dan berpikir mungkin salah orang. Tapi apa daya perempuan itu membalas teriakan anak tersebut. Harapan yang kembali muncul seketika mulai redup kembali, atau mungkin sudah hilang ditelan bumi. Kara yang tau perempuan itu sudah berkeluarga memutuskan untuk meninggalkan nya dan kembali kerumah.

Saat di kamar Kara terus merenung apa ini karma dari sikap perilaku selama ini karena menolak semua siswi yang suka padanya. Hingga ketika Kara menyimpan suatu rasa pada seseorang rasa itu tak pernah terbalas. Akhirnya Kara memutuskan untuk bunuh diri loncat dari jendela kamarnya. Tapi takdir berkata lain, tuhan masih sayang sama Kara hingga ia masih di beri kesehatan. Karena rumah kara hanya berlantai satu.

~ TAMAT ~

Realisasi Petuah R.A. Kartini

Bagiku sosok inspiratif perempuan setelah ibu adalah R.A. Kartini. Judul karya nya saja sudah sarat makna, “Habis Gelap Terbitlah Terang” kalimat dalam judul itu ku jadikan semboyan hidup saat aku mendapat kegagalan. Kegagalan itu menakutkan dan keberhasilan itu sulit didapatkan. Jiwa manusia memang selalu ingin hidup tanpa cobaan ya. Namun, cobaan itu bak kulit yang melekat pada badan. Tugas kita hanya memilih untuk membersihkan atau membiarkan kulit berdebu.

“Gimana nih hasil SNMPTN?”

Aku benci pertanyaan itu, bisakah hilangkan pertanyaan itu dari seluruh orang yang penasaran dengan hasil SNMPTN ku? Dengan berat hati, aku hanya membalas, “Belum rezekinya,” Kecewa? Sangat! Semangatku hancur mendapat warna merah. Ingin protes, tapi pada siapa? Ku biarkan air mata runtuh menangisi hasil perjuanganku. Nilai raport yang telah ku raih selama lima semester seakan sia-sia dijadikan peringkat pertama di sekolah. Pikiranku buyar, aku harus apa setelah ini? Diam saja meratapi warna merah kesedihan? Tidak, aku tidak boleh seperti itu. Ku usap air mataku, tarik napas dalam-dalam, dan tersenyum.

“Aku pasti bisa melewati ini!” tekad ku dalam hati.

Move on, itu hal yang harus ku lakukan. Melupakan hari kemarin dan menata hari yang akan datang. Mengikhlaskan juga berusaha menerima kenyataan.

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” R.A. Kartini

Kutipan itu memperkuat tekad untuk melawan rasa kecewaku. Satu hari setelah hari warna merah, dengan semangat aku mencari informasi pendaftaran beasiswa dan finalisasi UTBK. Aku terlahir di keluarga sederhana, apapun seadanya, asal kan bahagia. Pihak keluarga memberiku semangat, meyakinkan bahwa aku manusia kuat.

Sambil menunggu jadwal UTBK, aku mencoba mencari informasi pendaftaran universitas lainnya. Oh iya, saat SNMPTN kemarin aku mendaftar di UGM dan UNNES. Seakan bunuh diri ke jurang sebenarnya, sebab belum ada satu pun jejak yang diterima di UGM jalur SNMPTN. Aku ingin menjadi gerbang untuk adik kelasku, tapi nyatanya gerbang itu bergembok dan aku tidak memiliki kuncinya.

UTBK aku mencoba berjalan di tebing, UGM dan UNDIP sebagai puncaknya. Sayangnya tali ku tidak kuat hingga aku terjatuh dan tertimpa kata “gagal” Ya, aku tidak diterima, mungkin karena nilai UTBK ku yang tidak tinggi. Tapi kali ini aku tidak sepenuhnya sedih, karena nilai TPS ku memenuhi persyaratan pendaftaran PKN STAN. Padahal aku sempat melepas UIN Walisongo yang telah menerima ku di jalur SPAN PTKIN hanya demi Universitas Patih Majapahit.

Sesuai dengan alasanku itu, aku mendaftar UTUL UGM. Aku tes diantar oleh keluarga ku, sekalian healing gitu. Satu Minggu setelah UTUL yang dilakukan offline di kampus UGM, aku tes SKD di BKN Semarang diantar oleh keluarga lagi. Selain pendaftaran yang tes nya offline, aku juga mendaftar berbagai universitas yang membuka pendaftaran online, di antaranya SIMAK UI, SM ITB, UNPAD, UNNES, UNY, bahkan Tel-U.

Aku selalu ingat pesan R.A. Kartini, “Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.”

Pesan itu sangat menampar rasa malas dan mengobarkan api semangatku. Semua pendaftaran yang aku ikuti itu tidak ada satu pun yang memberiku kata “Selamat!”

Kegagalan belasan kali sungguh mengubah mentalku. Tidak hanya mental, uang yang telah aku tabung pun semakin menipis hanya untuk biaya registrasi yang tak kunjung berhenti. Sampai akhirnya aku merubah jalan mimpiku, mungkin tahun ini aku tidak ditakdirkan menyandang status mahasiswa. Tersisa satu harapan universitas di tahun 2021. Aku sudah siap jika hasilnya sama seperti sebelumnya. Aku sudah mencari informasi lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok dengan diriku. Jika bukan jalan universitas, mungkin jalan lainnya masih dapat mengantarkan aku pada mimpi-mimpiku.

“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.” R.A. Kartini

Bermimpi! Bermimpi setinggi-tingginya agar tidak jatuh serendah-rendahnya. Ya aku aku bermimpi dan berusaha menggapai mimpiku. Aku ingin memperbaiki keadaan ekonomi keluargaku, aku ingin mengangkat derajat kedua orang tuaku.

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” R.A. Kartini

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” R.A. Kartini

“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.” RA Kartini

Aku sangat bahagia, walaupun kenyataannya menjadi mahasiswa di era pandemi itu seakan menjadi kekasih bayangan. Jujur, Jabodetabek itu bukan lah tempat keinginan ku untuk melanjutkan pendidikan. Tapi aku sadar, bahwa pilihan Allah itulah yang terbaik untuk diriku. Terlebih, aku mendapat pekerjaan sampingan yang dulu aku cita-citakan, yaitu menjadi guru les privat. Selain itu, aku juga dapat merasakan yang namanya dipinang penerbit. Satu naskah cerita fiksi remaja yang aku publish di wattpad dilamar tiga penerbit. Syukur Alhamdulillah sedikit demi sedikit mimpi ku telah ku gapai.

Dengan ini aku simpulkan bahwa aku telah merasakan realisasi petuah melegenda R.A. Kartini, “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”

Tripta Menuju Cita

Sinar mentari menjadi saksi
Bagaimana Ku mulai menapaki hari
Lika liku kesulitan telah dilalui
Untuk kemenangan yang Ku nanti

Cemooh tak menghalau rasa
Menepis semua gelabah nestapa
Bukan tak suka ataupun jera
Semua Ku lakukan tuk menggapai cita

Perlahan langkah teriring serayu
Widya-ku selalu mencari ilmu
Peluh debu menjadi satu
Tekad kuat menerjang waktu

Kini Ku telah menghempas derita
Genggam unggara mujarab doa
Semua disaksikan oleh samasta
Inilah tripta menuju cita

Filosofi Angkringan

Siapa tidak mengenal satu kedai makan murah dan sederhana yang bernama Angkringan. Berbagai kota seperti Solo, Yogyakarta dan Semarang menawarkan berbagai macam masakan untuk disantap di sebuah tempat bernama Angkringan. Meskipun sudah menjadi tempat makan legendaris ternyata terdapat filosofi dan sejarah Angkringan yang perlu diperhatikan. Sebab, kata Anklingan memiliki banyak karakter, terutama dalam hal kesederhanaan dan murahnya, menjadikannya tempat di mana kita dapat bercanda dan berbicara sepuasnya tanpa melihat strata sosial.
Angkringan sendiri berasal dari bahasa Jawa “Angkring” yang artinya alat atau tempat berjualan makanan dengan konsep pikulan berbentuk melengkung ke atas. Selain itu konsep penjualan Angkringan ini juga bisa memakai gerobak dorong hingga yang menyajikan berbagai macam makanan dan minuman di tepi jalan. Model Angkringan dari zaman dahulu bisa di pasarkan dengan cara dipikul, akan tetapi seiring perkembangan waktu Angkringan ini berubah menjadi konsep gerobak dorong. Versi lain kata angkring sendiri memiliki kosa kata Jawa “metangkling” dimana posisi duduk setiap orang makan di Angkringan terlihat santai dengan salah satu kaki di atas kursi. Dari sinilah ada konsep sederhana dan tidak melihat strata sosial masyarakat yang menyantap masakan dan makanan murah di Angkringan.
Keberadaan kedai tersebut umumnya dapat dikenali berdasarkan ciri khas pikulan ataupun gerobak yang ditaruh di pinggir jalan, lengkap dengan pencahayaan yang temaram pada malam hari. Angkringan dapat juga diidentifikasi berdasarkan pilihan panganan dan minuman yang disajikan. Selain menyuguhkan sajian minum-minuman hangat seperti teh, minuman jahe panas (wedang jahe) dan kopi, angkringan juga dilengkapi dengan berbagai penganan sederhana seperti aneka gorengan serta sate-satean (sundukan). Ciri khas menu sajian dari angkringan yang cukup populer adalah nasi bungkus yang sering disebut sebagai sego kucing. Istilah sego kucing atau nasi kucing merujuk pada porsinya yang sangat sedikit dan dilengkapi potongan kecil ikan bandeng atau teri dan tumisan tempe (oseng-oseng), sehingga menyerupai makanan yang diberikan untuk kucing. Sajian minuman serta penganan yang dapat dikatakan sederhana tersebut membuat keberadaan kedai-kedai angkringan relatif dapat dijangkau dan dinikmati oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat kelas bawah. Kesederhanaan tersebut juga menghilangkan sekat-sekat keeksklusifan dan menjadi ruang berbaur antarkalangan. Para pedagang angkringan juga mematok harga yang relatif murah untuk sajian penganan yang menggambarkan selera masyarakat kelas menengah ke bawah.
Angkringan ini memiliki filosofi penting bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap Angkringan bukan hanya tempat makan saja, tetapi dari tempat ini muncul kehangatan dan kesederhanaan di semua kedainya. Angkringan  dapat diartikan juga sebagai potret perjuangan dengan penuh kegigihan sebab merupakan lahan ekonomi khususnya bagi masyarakat kelas bawah atau wong cilik untuk mempertahankan diri di tengah perkotaan. Menu-menu di angkringan yang sederhana seolah mengajak pembeli untuk merenungkan kembali tentang kehidupan. Dalam ajaran budaya Jawa, perenungan ini dinamai sebagai ngemadne hidup (menikmati hidup) sejenak tanpa kemrungsung (tergesa-gesa). Bahkan dari filosofi Angkringan ini juga menjadi satu tempat makan dimana masyarakat bisa membaur dan tanpa memandang strata sosial semua pengunjungnya. Kesan murah, sederhana, dan menjadi tempat interaksi bagi semua masyarakat menjadikan Angkringan sebagai salah satu lokasi mencari makanan populer bahkan di semua kota saat ini sudah tersedia dengan memberi karakter lokasi dan juga fasilitas tambahannya. Konsep yang sederhana tersebut menjadikan angkringan menjadi sebuah tempat makan sambil kongkow-kongkow menghabiskan waktu malam yang cukup populer. Angkringan dapat ditemui nyaris di setiap sudut saat malam di Kota Yogya dan Solo dengan ciri khas lampu temaramnya. Kini konsep angkringan mulai dilirik para pelaku bisnis kuliner untuk mengubah angkringan yang sederhana di pinggiran jalan menjadi berkonsep kafe atau resto. Angkringan kekinian saat ini marak dan tumbuh pesat seiring dengan popularitas wisata kuliner. Kafe dengan label angkringan mereka hadirkan untuk menjangkau cakupan konsumen dari kalangan menengah ke atas.
Saat ini memang menjadi tren tersendiri mengangkat unsur-unsur tradisional, lawas, dan “merakyat” sebagai komoditas bagi kalangan menengah ke atas. Berdasar uraian di atas, dapat kita pelajari bahwa dari kedai makan sederhana seperti angkringan, dapat dilihat sebagai sebuah situs yang menangkap berbagai hal terkait perkembangan sosial dan budaya suatu masyarakat. Angkringan tidak hanya dapat dinikmati dari aspek kenangan yang bersifat nostalgia. Lebih luas, sejarah kehadiran dan perkembangan angkringan juga tidak terlepas dari konteks dinamika sejarah perkembangan dua kota di jantung tanah Jawa yaitu Solo dan Yogya. Di lain sisi, konsep angkringan menjadi sebuah spirit tersendiri terkait bagaimana bentuk eksistensi kehidupan sosial budaya masyarakat kecil dalam kehidupan kota. Semangat tersebut jugalah yang saat ini menjadikannya sebuah “komoditas” konsep dagangan baru bagi para pelakon bisnis kuliner.

 

Penulis : Andini Candraningtyas (Club Writer)

Memori Buruk

Setiap orang pasti punya suatu pengalaman yang pernah ia alami dan selalu diingat. Entah itu pengalaman negatif ataupun pengalaman positif. Hidup kita tidak akan terlepas dari dua hal tersebut. Saat ingatan yang baik muncul kita mungkin akan tersenyum bahagia. Sebaliknya, kenangan buruk justru bisa menyebabkan trauma atau fobia. Memori buruk cenderung lebih susah untuk dilupakan dibandingkan dengan memori baik.

Pada dasarnya otak manusia mempunyai bagian khusus untuk menyimpan memori dan akan terus tersimpan selamanya. Ini terjadi karena protein merangsang sel-sel otak untuk membentuk koneksi pada ingatan lama. Namun, koneksi tersebut bisa berubah-berubah. Kadang ada potongan-potongan ingatan yang terlupakan atau malah lebih jelas, bahkan terkesan berlebihan. Contohnya, ular yang jatuh tepat di dekat mata Anda saat tertidur. Ingatan tersebut bisa saja bertambah buruk disebabkan oleh banyak faktor, seperti film atau foto yang menampilkan ular mengerikan. Semakin jelas dan berlebihan ingatan tersebut, semakin besar kemungkinannya dapat menyebabkan fobia.

Sebenarnya bisa saja memori buruk ini dihilangkan. Walaupun sifatnya permanen, tetapi semakin berat ingatan negatif itu, semakin susah untuk dilupakan. Menurut Bret Stetka, seorang penulis dan peneliti dari University of Virginia “Otak manusia mahir dalam mengatasi ingatan negatif. Tetapi jika ingatan negatif itu bersifat berat, akan membuat kerja sistem otak menjadi terganggu”.

Karena kita tentunya tidak ingin mengingat kenangan-kenangan negatif dalam hidup kita, ada bebreapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu prosesnya :

  1. Cari tahu pemicu

Ingatan negatif bisa mencul karena dipicu oleh faktor-faktor diluar emosi, seperti bau, gambar, atau suara. Contohnya, ketika Anda pernah memiliki trauma pemberontakan, akan mengingat kejadian tersebut ketika mendengar suara keras, asap tebal, atau keramaian. Nah, suara keras, asap tebal, dan keramaian inilah yang menjadi pemicu Anda mengingat kenangan buruknya. Dalam hal ini jika kita peka terhadap pemicu ingatan negatif tersebut, maka kita akan semakin mudah untuk mengendalikan diri.

  1. Konsultasi ke psikolog

Jika ingatan buruk sampai membuat kita trauma, sudah saatnya berkunjung ke psikolog. Tujuannya jelas, seorang psikolog sangat bisa mambantu kita untuk melupakan trauma yang pernah dialami. Meskupun begitu yang perlu diingat walau kita sudah berusaha melupakan semua memori buruk itu, bisa jadi tidak sepenuhnya akan hilang. Tetapi paling tidak kita bisa berdamai dengan gejala dan pemicunya, sehingga bisa menjakani aktivitas sehari-hari. Mengingat ingat ingatan buruk berulang kali ini ternyata bertujuan untuk memaksa otak merekonstruksi kejadian dan mengurangi trauma emosional yang dialami. Meski ingatan tersebut tidak dapat dihapus, setidaknya emosi yang muncul tak lagi sesensitif sebelumnya.

Dalam hidup kita pasti mengalami hal yang tidak enak untuk dijalani. Hendaknya itu dijadikan sebagai pelajaran hidup agar kita tidak mengalami kejadian yang sama. Sebagai manusia kita hanya bisa terus ikhtiar dan bertawakal dengan harapan masa dengan bisa menjadi lebih baik.

 

Penulis : Lugis Budiman (Club Writer)

Kemarin

Kemarin adalah pembelajaran, esok adalah harapan dan hari ini adalah perubahan. Ya, kemarin sebuah perjalanan yang memberikan pelajaran. Kini saatnya untuk berubah menjadi lebih baik.

Karena masa depan merupakan harapan yang bukan hanya sekedar diimpikan, tetapi perlu tindakan untuk direalisasikan. Hari ini milik kita sendiri, bukan orang lain. Maka langkah awal yang bisa kita lakukan yaitu dengan ‘memulai’. Mulai dari hal-hal kecil tetapi konsisten. Sebab perubahan terjadi dari seberapa konsisten kita mengubah atau menambah suatu kebiasaan. Tidak mudah, tetapi akan terbiasa dengan sendirinya.

Perlu apresiasi untuk diri karena sudah bertahan sampai sejauh ini. Kelihatan sepele, tapi setidaknya sebagai bentuk self-love. Kadang kita terlalu memaksakan diri untuk hal yang diluar kendali. Padahal kita punya kapasitas tersendiri. Jangan sampai kita kehilangan diri sendiri karena menjadi orang lain.

Ada kutipan yg berisi ‘orang baik memberi kebahagiaan, orang jahat memberi pengalaman, dan orang terbaik memberi kenangan’. Ini tentang kita, bukan orang lain. Sudah seberapa banyak orang yang kita bahagiakan?. Bukan sekedar pernah, tetapi selalu berada disamping untuk selalu membahagiakan. Bicara tentang orang jahat, sepertinya setiap orang pasti pernah jadi orang jahat dibeberapa orang tertentu. Sebaliknya, pasti ada orang yang menurut kita jahat. Seperti kutipan diatas, orang jahat memberi pengalaman. Cukup ambil baiknya, lalu hindari. Karena memang orang jahat yang hadir kemarin dihadirkan agar kita lebih banyak belajar. Supaya kedepannya bisa lebih baik lagi.
Untuk yang kemarin menghadapi kegagalan, jangan pernah menyerah. Kesempatan akan selalu ada untuk orang-orang yang mau mencoba. Istirahat boleh, berhenti jangan. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Jika kesuksesan kita ada dihari esok, sedangkan hari ini kita berhenti dan menyerah, usaha dihari kemarin sia-sia bukan?. Jadi, semangaat!

Jika kemarin sudah baik, tingkatkan menjadi lebih baik. Jika sudah lebih baik, maka berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Bukan masalah mengejar kesempurnaan, tetapi bentuk pengevaluasian hari kemarin. Jangan marah kalau kemarin pernah dimanfaatkan. Karena itu salah satu wujud kita bermanfaat untuk orang lain. Tetapi juga belajar melakukan hal yang sewajarnya dan sepantasnya.

Kalau kemarin berat, lihatlah kita sudah melalui itu semua sampai saat ini. Semua kita selesaikan dengan baik. Esok jika bertemu dengan hal-hal yang berat lagi, tanamkan didalam pikiran, ‘kita pasti bisa’. Jangan meragukan diri sendiri. Fokus pada kelebihan yang kita miliki. Waktu terus berjalan, kita akan tertinggal kalau hanya fokus kepada kekurangan. Hakikatnya memang setiap orang punya kekurangannya masing-masing.

Belajarlah untuk mengerti, sesuatu yang ditakdirkan untuk kita tidak akan menjadi milik orang lain kecuali diganti menjadi lebih baik lagi. Bukan sekedar pasangan, tetapi kesempatan, kesuksesan, pencapaian, dll. Berusaha hari ini untuk kesuksesan esok hari. Bukan masalah bersedih hari ini, karena esok akan ada kebahagiaan yang menghampiri. Jatuh, bangun lagi. Gagal, bangkit lagi. Sultan Syahrir pernah berkata, hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.

Pelan tapi pasti, jangan berlari lalu berhenti. Tujuan menanti kita untuk sampai. Lakukan yang terbaik, walaupun hasil tidak selalu memihak kepada kita. Lakukan lalu pasrahkan, karena tugas kita berusaha bukan menetapkan.
Hari ini hasil jerih payah atau usaha kita kemarin. Esok adalah bagaimana kita hari ini.
Dan tulisan ini berlaku sebagai reminder untuk diri saya pribadi. Semangat dan sehat selalu!

 

Penulis : Ninda Rizky Nuraeda (Club Writer)

Wilapa Rindu

WILAPA RINDU

Laksana surgawi nan dewati
Jaladhi indah menjadi saksi
Rindu ini jelas terpatri
Untukmu, Sang Sulaksmi hati

Kebisingan hilang dilekang malam
Tak bersua, hanya bergumam
Jatuh tersungkur merengkuh suram
Gelabah rindu tak kunjung padam

Pilau melaju seiring serayu
Termaktab rapat saksi bisu
Bertemu malu, tak bertatap rindu
Hirap sudah dilekang waktu

Grahita tercipta menghalau hara
Kelam terdalam bak wilapa
Saskara tahu, wahai Sukanya
Rindu ini sungguh menyiksa

 

Penulis : Zalfa Talitha Handarbeni (Club Writer)

Permendikbud No. 30 tahun 2021 : solusi pelecahan seksual di lingkungan pendidikan?

Permendikbud No. 30 tahun 2021 : solusi pelecahan seksual di lingkungan pendidikan?

 

Belum lama ini jagat media sosial dihebohkan dengan banyaknya berita tentang kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan universitas. Maraknya pemberitaan membuat masyarakat berfikir, bukankah kampus harus menjadi tempat yang aman untuk menuntut ilmu? Lalu mengapa tindakan-tindakan tidak senonoh justru bermunculan dan menimbulkan rasa awas bagi mahasiswa? Tindak kekerasaan seksual di lingkungan kampus juga berpotensi membuat mahasiswa ‘tidak berkutik’.

Tidak adanya perlindungan yang kuat dan rasa kepercayaan dari orang lain, membuat beberapa korban memilih tutup mulut dan membiarkan kasus lenyap begitu saja. Padahal tindak kejahatan justru harus diusut tuntas agar tidak ada lagi korban selanjutnya. Menanggapi permasalahan ini, menteri pendidikan dan kebudayaan– Nadiem Makarim, mengeluarkan peraturan menteri baru yang menaungi kekerasan seksual di lingkungan universitas. Namun mengapa permendikbud yang harusnya disambut sukacita malah menimbulkan pro dan kontra?

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi, berisi pasal-pasal sebagai berikut :

Pasal 5
(1) Kekerasan seksual mencakup tindakan yang dilakukan secara verbal, nonfisik, fisik, dan/atau melalui teknologi informasi dan komunikasi.
(2) Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a) menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban;
b) memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan korban;
c) menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada korban;
menatap korban dengan nuansa seksual dan/atau tidak nyaman;
d) mengirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/atau video bernuansa seksual kepada korban meskipun sudah dilarang korban;
e) mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban

(3) Persetujuan Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, huruf f, huruf g, huruf h, huruf l, dan huruf m, dianggap tidak sah dalam hal Korban:

a) memiliki usia belum dewasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b) mengalami situasi dimana pelaku mengancam, memaksa, dan/atau menyalahgunakan kedudukannya;
c) mengalami kondisi di bawah pengaruh obat-obatan, alkohol, dan/atau narkoba;
mengalami sakit, tidak sadar, atau tertidur;
d) memiliki kondisi fisik dan/atau psikologis yang rentan;
e) mengalami kelumpuhan sementara (tonic immobility); dan/atau
f) mengalami kondisi terguncang.

Meski demikian, Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 itu juga menuai kritik. Beberapa kalangan ada yang menilai Permendikbud Ristek ini melegalkan seks bebas. Menurut, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Lincolin Arsyad salah satu kecacatan materil ada di Pasal 5 yang memuat consent dalam frasa ”tanpa persetujuan korban”.

“Pasal 5 Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 menimbulkan makna legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan,” kata Lincolin dalam keterangan tertulis.

Merespon berbagai tudingan yang muncul, Nadiem Makarim selaku menteri pendidikan, membantah tudingan yang dialamatkan kepadanya itu. Dirinya bahkan menilai tindakan tersebut sebagai fitnah. Nadiem memastikan, tujuan utama adanya peraturan tersebut adalah untuk memastikan hak warga negara atas pendidikan dapat tetap terjaga. Karenanya, ia mengatakan fokus utama Permen PPKS tersebut bertujuan untuk mencegah dan penanganan kekerasan di kampus.

“Kami di Kemendikbud Ristek sama sekali tidak mendukung seks bebas, perzinahan. Itu luar biasa sekali saya terkejutnya waktu saya dituduh,” jelasnya dalam acara Mata Najwa, Rabu, 10 Novemebr 2021.

Selain itu, pelaksana Tugas Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Prof Nizam juga menegaskan, anggapan yang menyebut Permendikbudristek No.30 sama saja melegalkan seks bebas adalah salah. Menurut Nizam, anggapan ini timbul karena adanya kesalahan sudut pandang. Tidak ada satu pun kata dalam Permendikbudristek PPKS ini yang menunjukkan bahwa Kemendikbudristek memperbolehkan perzinaan. Tajuk diawal Permendikbudristek ini adalah “pencegahan”, bukan “pelegalan”.

 

Penulis : Mutiara H.S

Teladan

(ke)Teladan(an)

Secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : teladan/te·la·dan/ n sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya).

Membahas dari segi etimologi sudah dapat digambarkan seperti apa dan bagaimana rangkaian yang harus dibentuk untuk menjadi tauladan, dari perbuatan, pensifatan dan sebagainya guna tercapainya pemaknaan dari pembahasan hal di dalam segi etimologi

Sejatinya sebagai seorang tauladan yakni menanamkan nilai kebaikan untuk segala aspek. Baik aspek yang bisa langsung diberikan untuk menjadi contoh, ataupun secara tidak langsung memberikan hal untuk dicontoh. Namun, dasar menjadi tauladan itu tidak harus selalu tentang baik, sebagai manusia menjadi hal yang wajar, apabila terdapat kekurangan atau terdapat hal yang buruk yang tidak dapat dijadikan contoh. Kendati demikian, segala aspek kehidupan mampu menjadikan sebuah pelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung. Hanya saja tinggal bagaimana metode untuk menyampaikan ataupun memberikan pelajaran atas hal tersebut, agar mampu diterima dan dipahami sepenuhnya, supaya menjadi hikmah untuk dapat didalami.

20 November kemarin, hari dimana diperingati sebagai hari anak internasional. Konsen tauldan dalam hal ini ada pada seorang anak. Anak menjadi aspek terpenting pada bahtera kehidupan untuk melanjutkan hal yang akan terus berjalan. Anak pula yang akan menjadi  tauladan dalam pengimplemetasian atas apa yang sudah didaptakan dan ditingkatkan oleh tauladan itu sendiri.

Menghidupi dan menjadikan diri sebagai tauladan tidak hanya pada poin individu dengan orang lain, namun juga pada aspek individu tauladan itu sendiri. Sebab apa? Karena meneladani diri sendiri adalah bentuk usaha dalam meningkatkan aspek kepekaan dan mutu Pendidikan, dikarenakan hal ini akan terus menjadi gambaran kepada diri sendiri, untuk menyadari sejauh mana dan sedekat apa dengan tujuan yang telah dituliskan pada diri tauladan itu sendiri.

Memahami makna dan hakikat tauladan akan terus memberikan pembaharuan di sekitar lingkungannya. Untuk apa? Bukan lain adalah untuk memberikan pengaruh positif,  hal ini disampaikan karena manusia sendiri memiliki sifat bosan ataupun jenuh. Manusia memiliki hakikat berbuat baik dan juga tidak baik. Makhluk ciptaan yang diciptakan paling sempurna namun nyatanya bukanlah yang paling sempurna, ya karena memang hanya tuhanlah yang maha sempurna, manusia dapat menjadi dua aspek pada dirinya, untuk dijadikan untuk pelajaran yang dapat dihikmahi demi tujuan dari menjadi tauladan itu sendiri.

Peningkatan kadar kedekatan dengan tuhan pula yang akan memberikan dorongan secara tidak sadar dari tuhan untuk yang diciptakannya. Dengan tuhan menciptakan, yang tak lain hanya untuk beribadah kepadanya, tuhan pula menjadikan setiap yang diberikan sebagai pelajaran, baik dari aspek peristiwa yang dialami ataupun juga mungkin yang didapatkan dari individu lainnya.

Dengan demikian, sedikit yang dapat dipahami bersama bahwa teladan atau pun keteladananlah yang bisa dapat menjadi dorongan, batu loncatan perubahan atau lain hal sebagainya., dari teladan dan keteladanan. Hal ini pula yang menjaga keseimbangan yang terjadi pada bahtera kehidupan supaya selalu dapat mengarungi luasnya lautan yang takan ada habisnya juga ujungnya. Terpenting adalah pengimplementasian dari setiap apa yang di pelajari dan dipahami.

 

Penulis : Nurul Septyaningsih (Club Writer)