Adab Dulu, Ilmu Kemudian

Adab Dulu, Ilmu Kemudian

“Orang beradab sudah pasti berilmu,Orang berilmu belum tentu beradab.”

Kita ketahui, bahwa perbedaan manusia dengan binatang adalah akal atau ilmu. Tetapi tingkatan yang lebih tinggi dari ilmu yakni adab atau akhlak. Karena seberapapun banyaknya ilmu tanpa disertai adab yang baik akan bisa menjadikan manusia pun berperilaku seperti binatang(re : keserakahan, tamak, kejam dan perilaku tercela lainnya)

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa para ulama mendahulukan mempelajari adab?

Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Sebegitu pentingkah mempelajari adab, baru ilmu kemudian???

Nah, misalnya di kehidupan nyata pun mungkin dari kita pernahkah menjumpai seorang yang sangat pintar, tapi sombong. Cerdas, tapi tak berperilaku baik. Pandai, tapi adab terhadap orangtua/gurunya kurang.

Pastinya kita pun memandang tidak baik orang seperti itu, karena budi pekertinya yang tidak sinkron dengan kepandaiannya.

Terkait kondisi di indonesia, pejabat tinggi yang mapan ilmunya tetapi korupsi. Acap kali, kita pun mendengar beberapa kasus murid yang tak sopan santun terhadap gurunya, atau karena orangtuanya memiliki jabatan tinggi jadi seenaknya terhadap guru.

Itulah mengapa adab diutamakan untuk dipelajari terlebih dahulu.

Apasih adab itu?
Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan, adab adalah menerapkan “akhlak-akhlak yang mulia”

Urgensinya kita harus memiliki adab atau akhlaq yang baik sebelum berilmu. Yakni,

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا

“Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”).

Jelas dikatakan, sebaik-baik manusia yang paling baik akhlaqnya. Oleh karenanya, mau jadi sebaik-baik manusia?
Yaitu dengan memperbaiki akhlaqnya.

Sebenernya cakupan adab sangat luas. Bukan hanya dalam menuntut ilmu saja. Dalam hal ini dengan mengutamakan adab sebelum menuntut ilmu menjadikan ilmu yang selama ini kita pelajari penuh keberkahan. Pastinya tidak inginkan udah lelah, hampir belasan tahun menuntut ilmu hanya kesia-siaan saja yang didapatkan. Dengan adab dan akhlaq yang baik menjadikan lebih mudah memahami ilmu.

Apa saja adab sebelum menuntut ilmu?

– Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Semata-mata hanya mengharap ridho Allah, bukan tujuan duniawi.

– Membersihkan diri dari akhlak-akhlak tercela, dan hati yang kotor seperti ; hasad (dengki), riya, ujub (kagum pada diri sendiri), meremehkan orang lain, dendam dan berdusta.

– Perhatian dan fokus utamanya adalah mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk akhirat. Rajin berdo’a agar diberikan ilmu yang bermanfaat.

– Selektif dalam memilih makanan. Yaitu makanan yang baik dan halal, karena berpengaruh terhadap mudahnya memahami ilmu.

– Memperhatikan waktu tidur. Hendaknya tidur sehari tidak lebih dari 8 jam. Agar tidak mudah lupa.

– Senantiasa bersungguh-sungguh untuk menyibukkan diri dengan ilmu, baik membaca, menelaah, menghafal, mengulang pelajaran dan aktifitas lainnya.

– Memanfaatkan sebaik-baik waktu senggang dan ketika badan fit (re : waktu muda dan otak masih cemerlang)

– Memutuskan dan menghilangkan hal-hal yang menyibukkan sehingga lalai dari menuntut ilmu, atau penghalang-penghalang yang membuat menuntut ilmu tidak maksimal.

– Bersemangat dalam menuntut ilmu dan menjadikan aktifitas menuntut ilmu sebagai rutinitasnya di setiap waktunya.

– Hendaknya memiliki cita-cita yang tinggi untuk akhirat. Tidak mudah puas, dan tidak menunda-nunda dalam belajar, bersemangat mencari faidah ilmu walaupun sedikit.

– Memandang guru dengan penuh kemuliaan dan penghormatan.

– Memahami hak-hak guru dengan senantiasa ingat akan keutamaan guru, dan bersikap tawadhu’ di hadapan guru.

– Menghormati guru dengan penuh pengagungan, dan selalu berterima kasih kepada guru atas ilmu dan arahan.

– Tidak malu untuk bertanya atau meminta penjelasan tentang hal yang belum dipahami.

,