From Hero to Zero

From Hero to Zero

Dalam kehidupan ini, terlihat penciptaan dunia. Semua teratur dan tertata sempurna. Bisakah berjalan dengan sendirinya? Bukan lagi tentang kotoran unta. Yang kita tahu pasti, ketika ia ada, pastilah ada empunya. Begitu pula dunia. Seapik tata Surya, pasti ada penciptanya. Seindah matahari senja, tentu ada yang mengaturnya. Sedemikian rupa. Tak mungkin berjalan dengan sendirinya.

Dialah Tuhan mu, Tuhan ku, dan pencipta Alam semesta. Ia tak terlihat indra, tapi selalu ada. Kita yang tak mampu mengindraNya. Namun kita percaya Dia lah Allah SWT..

Tentu perlu kesadaran nyata. Menyadari Dia sang pencipta. Dan kita hanya HAMBA. Serendah-rendahnya jabatan. Tanpa punya kekuasaan. Namun kadang larut dalam kesombongan.

Memiliki pangkat yang tinggi di dunia. Ilmu yang dituntut hingga ke negeri china. Harta yang melimpah ruah terpampang nyata. Tidak menjadikan kita HERO di mataNya

Status Hamba telah melekat dalam diri. Sepatutnya perlu kita sadari. Bahwa yang kita miliki, tidak bisa menjadi alasan untuk menyombongkan diri. Di hadapan sang ilahi.

From Hero to Zero

Ketika kita merasa sudah meraih kesuksesan dunia. Dipuji oleh berjuta pasang mata. Disambut dengan tepuk tangan yang menggembira. Namun itu semua, tidak menjadikan kita HERO di mataNya. Hamba tetaplah hamba, yang harus tunduk dan patuh pada penciptanya. Merasa diri lemah tak berdaya di hadapanNya. Merasa diri senantiasa membutuhkan pertolonganNya. Merasa diri haus akan kasih sayangNya. Disinilah nilai ZERO kita. Dalam penghadapan seorang hamba terhadap penciptanya. Bahkan terlihat lucu, ketika kita merasa sukses akan dunia, lalu menyombongkan dengan penuh bangga di hadapan sang Pencipta. Padahal nyatanya, di hadapanNya, kita bukan apa-apa.

Seandainya kita lihat bumi dari angkasa, bahkan kita tak bisa melihat rumah nan megah yang kita banggakan sebelumnya. Sombong akan ilmu yang dipunya, bahkan kita tidak bisa menciptakan makhluk kecil yang serupa dengan penciptaan Tuhannya. Membanggakan diri di hadapan sang Pencipta, bahkan kita tidak mampu mengatur detak jantung setiap detiknya, mengalirkan darah sehebat Tuhan mengaturnya.

Adalah keputusan yang salah. Ketika kita merasa tidak butuh Allah, hanya karena telah merasa sukses di dunia. Sesukses apapun manusia di dunia, tidak bisa merubah statusnya yang hanya seorang hamba. Justru kesombongan kita bisa menjauhkan kita dari tempat yang dinamakan surga. Sesukses apapun manusia di dunia, dia tetap hamba yang harus tunduk perintah Tuhannya.

 

Ditulis oleh : Nurjanah Triani (Club Writer)

,