Perempuan

Perempuan

Setelah mendengar kata perempuan, kemudian yang terlintas adalah “Perempuan itu pasti selalu benar” atau “Perempuan adalah makhluk lemah”, atau stereotipe lain yang berkaitan dengan perempuan yang belum tentu benar juga belum tentu salah. Lalu bagaimana sebenarnya perempuan ? Bagaimana rasanya menjadi perempuan ?

 

Jika kita melihat KBBI–Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat banyak arti  kata “perempuan” dan menurut penulis, ada beberapa yang sangat di sayangkan, mengapa ? Penulis akan menyalin seluruh arti kata perempuan dalam KBBI tanpa mengeditnya.

 

pe·rem·pu·an n 1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);

— geladak pelacur;

— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;

— jalan pelacur;

— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;

— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);

— lacur pelacur; wanita tuna susila;

— lecah pelacur;

— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;

— simpanan istri gelap;

 

ke·pe·rem·pu·an·an n 1 perihal perempuan; 2 kehormatan sebagai perempuan: banyak tentara pendudukan yang melanggar ~ wanita desa

 

Banyak kata – kata indah di muka bumi, namun arti kata perempuan dalam KBBI malah berkonotasi tidak baik, karena penulis sendiri telah membandingkan dengan arti kata laki-laki pada KBBI. Terlihat kata – kata yang tidak senonoh hampir ada di setiap bagiannya. Begitupun dalam beberapa kalimat, seolah – olah perempuan hanya sekedar alat produksi bayi atau kasarnya hanya sekedar budak nafsu. Padahal perempuan memiliki arti lebih dari sekedar itu. Perempuan yang katanya makhluk lemah, pada kenyataannya adalah kaum – kaum yang luar biasa. Tak jarang kita menemukan perempuan hebat yang mengurus pekerjaan rumahnya sekaligus menjadi karyawan di kantornya. Bahkan pada zaman ini, begitu banyak perempuan yang menamatkan S3 nya bahkan mendapat promosi untuk gelar Professor. Kalau kita pikir, menamatkan pendidikan, bahkan mencapai pendidikan yang sangat tinggi bukan perjalanan yang mudah dan ringan – ringan saja bukan ? Namun tetap saja, kenyataan ini tak pernah mematahkan stereotipe bahwa “Perempuan adalah makhluk yang lemah”.

Dan karena stereotipe tersebut, perempuan selalu saja di pandang sebelah mata dalam berbagai bidang, baik dalam pekerjaan, maupun dalam mengemban tanggung jawab. Bahkan tak jarang,  stereotipe ini di manfaatkan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merugikan kaum perempuan itu sendiri, contoh kasarnya adalah pelecehan seksual yang bahkan undang – undangnya sudah tertulis dengan jelas, namun sayangnya tidak di tindak secara tegas.

 

Bagi penulis sendiri, perempuan adalah sosok yang sekalipun terjatuh dan menangis, tak sedikit dari mereka yang bangkit dan memulai kembali semuanya dari awal. Perempuan itu memiliki hati yang lembut juga setegar batu karang sekaligus. Perempuan juga memiliki bahu yang hangat untuk berbagi pelukan sekaligus kokoh untuk meredam air mata. Makhluk istimewa yang di ciptakan Tuhan untuk menjadi penyeimbang bagi alam semesta ini.

Menjadi perempuan, berarti harus siap untuk menjadi istimewa. Maka dari itu, perempuan harus di hargai, dan perempuan tentu saja harus lebih menghargai dirinya sendiri.

Seperti kata Ibu Kartini “Sampai kapanpun, kemajuan perempuan itu ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa.”

 

Penulis : Atikah Dhani Ayuningtyas

,