Satu Bulan yang Sia-Sia

Satu Bulan yang Sia-Sia

Takbir berkumandang meriuhkan suasana petang hingga fajar 

Sosok pria dan wanita dengan perasaan haru tergambar

Ditampilkan pada bayangan yang berlayar 

Raga dan lisan yang basah akan kidungan istighfar 

Sorak-sorai umat bergemuruh saling bertautan salam 

Sebulan penuh berharap akan datangnya ilham 

Membersihkan hati yang penuh dendam 

Hingga tak ada satu ciptaan-Nya yang terlihat muram

______________________________________________________________________________

Satu malam sebelum hari raya

Langit malam dibakar oleh api-api yang naik dari bumi, sekejap menyala sekejap menghilang. Indah, hampir di seluruh penjuru bumi dihiasi yang menimbulkan dentuman lantang. Lantunan takbir juga memenuhi sudut yang tak terjamahi dan sukma yang sesak terisi. Dalam rumah-rumah tersusun meja dan kursi. Gawai pun mulai diramaikan dengan saling meminta maaf dan mengucapkan selamat hari raya idul fitri.

“Esok hari raya, tapi yang kupunya hanya pakaian lusuh ini dan sendal ini” 

Persis di bawah lampu remang-remang dekat dengan alas koran dan beberapa peralatan semir sepatu, gumam seorang anak laki-laki sambil mengacungkan beberapa pakaian dan satu-satunya sendal yang ia miliki. Perawakannya terlihat lusu tapi ada aura magis yang mengisi. Ia mandi sesekali di masjid atau ikut menumpang di rumah Bu Lastri. Pakaian yang ia kenakan juga sudah 3 hari tak diganti. 

“Sudahlah sepertinya aku memang tak pantas untuk merasakan bahagia seperti yang lain” pekik anak laki-laki itu.

Kesehariannya dipenuhi dengan gelak tawa, senyumnya yang merekah menarik bahagia manusia lainnya. Biasanya ia ceria, entah kenapa kali berbeda, seperti ada yang mengganjal dari pikirannya dan baru kali ini, ia bersuara. Tinggal sendiri, sebatang kara. Tak ada ayah maupun bunda. Pun ia jauh dari sanak saudara. Tapi satu hal yang selalu ia yakini, bahwa Tuhan selalu bersamanya.

Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang yang ada di dalamnya. 

Cing… cing… cing…

Terdengar logaman koin saling berjatuhan. Mulai dihitung dengan seksama dan pasti, ia sambil mengucap syukur atas rezeki yang Tuhan berikan.

“Alhamdulillah, hari ini lebih banyak dari kemarin. Berarti bisa ku sisipkan dua puluh ribu untuk celengan dan sepuluh ribu untuk beli makan.” Ucapnya penuh syukur tak ada keraguan “Tidak pakai baju baru, tidak makan ketupat, ya tidak apa-apa. Ta…pi, apa dengan aku tidak merayakan lebaran, puasa sebulan ku sia-sia?” terbesit dalam pikirannya akan amal yang ia kerjakan.

Bergegas ia memasukan uang ke dalam celengan dan sisanya ditaruh dekat peralatan semir sepatunya. Segera ia membersihkan diri, untuk segera mengulang kembali pelajaran sebelumnya. Yaa, ia sekolah di salah satu yayasan yang diadakan untuk anak-anak luar biasa hebat. Dengan tempat yang seadanya, di bawah kolong jembatan tak jauh dari tempat ia tidur sekarang. Tangan-tangan terampil para relawan menyulap satu ruangan kosong menjadi tempat yang nyaman dan indah untuk belajar.

Ia memang anak yang rajin, ia sadar akan perjuangan hidupnya yang penuh dengan tantangan. Di umurnya yang belum menginjak remaja, bahunya sudah sekuat baja. Mentalnya tak perlu ditanya. Apalagi pola pikirnya yang sudah menyamai orang dewasa. 

“Kertas apa ini?” ia heran, setelah menemukan secarik kertas di antara buku-buku pelajarannya. Kertasnya sudah seperti diremuk-remuk, tak berbentuk. Ia penasaran, segera ia membacanya. 

 

Halo, 

Dia adalah jenis manusia seperti matahari. Bersinar tanpa harap diberi. Bulan dan bintang yang indah takkan bersinar tanpa ada matahari. Kehidupan di bumi mungkin takkan terkendali. Tak ada yang bisa menyamai. Dan dia adalah kamu. 

Jangan sedih, kamu matahari yang sinarnya tak tertandingi. Hari raya esok bukan perihal siapa yang memakai pakaian baru dan sandal baru, tapi perihal siapa yang menang melawan hawa nafsu. Pakaian terbaik bukan yang dinilai dari baru dan besarnya angka tapi pakaian terbaik yang pantas dikenakan adalah takwa. Tak usah risau akan sandal yang kau kenakan, pasalnya pengorbanan di setiap langkah kakimu jauh lebih membanggakan. 

Percayalah, bahwa ada tangan-tangan tuhan yang datang bergantian.

Berbahagialah, Tuhanmu menyuruh tanpa abaian.

Ikutlah, serukan ayat-ayat Alquran.

Berharap, esok penuh balasan akan semua amalan.

Ingat, tak ada yang sia-sia, kamu bak seperti berlian.

 

Sambil menangis sesegukan ia berkata “Si.. si.. siapa yang menulis ini, a.. aku malu.” Ia yang penuh dengan tanya tentang siapa yang menyelipkan kertas itu “Aku langsung ditegur.” 

Ia kembali membacanya, kali ini ia benar-benar memahami maknanya. Sambil berkata lirih dalam hatinya, ia menangis memohon kepada Tuhannya. 

“Ya Allah, maaf kali ini aku mengingkari nikmatmu, maaf telah berburuk sangka padamu” ia menengkukan kepalanya ke dalam lutut yang ia tekuk. 

Tak lama kemudian, ada satu relawan yang mengajarnya di sekolah datang mengahampirinya seraya memberikan baju koko dan sandal baru untuk dikenakan esok hari. Seharusnya ia mendapatkan pakaian tersebut dari sore, tapi karena kegigihannya dalam bekerja mengharuskan ia pulang setelah matahari di telan bumi. 

Ia benar-benar menangis, kali ini tangisannya lebih keras. Dalam hatinya ia bergumam.

“Aku percaya akan Tuhanku, tangan-tangan tuhan datang bergantian setiap waktu”

______________________________________________________________________________

Ibnu Qayim berkata, “Pada kedua Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha), Rasulullah SAW biasa mengenakan pakaian yang terbaik dan ada sepasang pakaian beliau yang khusus digunakannya pada shalat Hari Raya dan shalat Jumat”.

Selain itu, Hasan ash-Shibti juga meriwayatkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk mengenakan pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian yang terbaik pada Hari Raya.

Bukan tentang pakaian baru, melainkan pakaian terbaikmu. Jangan sampai pakaian baru justru mengesampingkan takwamu.

Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

 

Penulis : Nurul Septyaningsih

,