Teladan

Teladan

(ke)Teladan(an)

Secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : teladan/te·la·dan/ n sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya).

Membahas dari segi etimologi sudah dapat digambarkan seperti apa dan bagaimana rangkaian yang harus dibentuk untuk menjadi tauladan, dari perbuatan, pensifatan dan sebagainya guna tercapainya pemaknaan dari pembahasan hal di dalam segi etimologi

Sejatinya sebagai seorang tauladan yakni menanamkan nilai kebaikan untuk segala aspek. Baik aspek yang bisa langsung diberikan untuk menjadi contoh, ataupun secara tidak langsung memberikan hal untuk dicontoh. Namun, dasar menjadi tauladan itu tidak harus selalu tentang baik, sebagai manusia menjadi hal yang wajar, apabila terdapat kekurangan atau terdapat hal yang buruk yang tidak dapat dijadikan contoh. Kendati demikian, segala aspek kehidupan mampu menjadikan sebuah pelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung. Hanya saja tinggal bagaimana metode untuk menyampaikan ataupun memberikan pelajaran atas hal tersebut, agar mampu diterima dan dipahami sepenuhnya, supaya menjadi hikmah untuk dapat didalami.

20 November kemarin, hari dimana diperingati sebagai hari anak internasional. Konsen tauldan dalam hal ini ada pada seorang anak. Anak menjadi aspek terpenting pada bahtera kehidupan untuk melanjutkan hal yang akan terus berjalan. Anak pula yang akan menjadi  tauladan dalam pengimplemetasian atas apa yang sudah didaptakan dan ditingkatkan oleh tauladan itu sendiri.

Menghidupi dan menjadikan diri sebagai tauladan tidak hanya pada poin individu dengan orang lain, namun juga pada aspek individu tauladan itu sendiri. Sebab apa? Karena meneladani diri sendiri adalah bentuk usaha dalam meningkatkan aspek kepekaan dan mutu Pendidikan, dikarenakan hal ini akan terus menjadi gambaran kepada diri sendiri, untuk menyadari sejauh mana dan sedekat apa dengan tujuan yang telah dituliskan pada diri tauladan itu sendiri.

Memahami makna dan hakikat tauladan akan terus memberikan pembaharuan di sekitar lingkungannya. Untuk apa? Bukan lain adalah untuk memberikan pengaruh positif,  hal ini disampaikan karena manusia sendiri memiliki sifat bosan ataupun jenuh. Manusia memiliki hakikat berbuat baik dan juga tidak baik. Makhluk ciptaan yang diciptakan paling sempurna namun nyatanya bukanlah yang paling sempurna, ya karena memang hanya tuhanlah yang maha sempurna, manusia dapat menjadi dua aspek pada dirinya, untuk dijadikan untuk pelajaran yang dapat dihikmahi demi tujuan dari menjadi tauladan itu sendiri.

Peningkatan kadar kedekatan dengan tuhan pula yang akan memberikan dorongan secara tidak sadar dari tuhan untuk yang diciptakannya. Dengan tuhan menciptakan, yang tak lain hanya untuk beribadah kepadanya, tuhan pula menjadikan setiap yang diberikan sebagai pelajaran, baik dari aspek peristiwa yang dialami ataupun juga mungkin yang didapatkan dari individu lainnya.

Dengan demikian, sedikit yang dapat dipahami bersama bahwa teladan atau pun keteladananlah yang bisa dapat menjadi dorongan, batu loncatan perubahan atau lain hal sebagainya., dari teladan dan keteladanan. Hal ini pula yang menjaga keseimbangan yang terjadi pada bahtera kehidupan supaya selalu dapat mengarungi luasnya lautan yang takan ada habisnya juga ujungnya. Terpenting adalah pengimplementasian dari setiap apa yang di pelajari dan dipahami.

 

Penulis : Nurul Septyaningsih (Club Writer)

,