Filosofi Angkringan

Filosofi Angkringan

Siapa tidak mengenal satu kedai makan murah dan sederhana yang bernama Angkringan. Berbagai kota seperti Solo, Yogyakarta dan Semarang menawarkan berbagai macam masakan untuk disantap di sebuah tempat bernama Angkringan. Meskipun sudah menjadi tempat makan legendaris ternyata terdapat filosofi dan sejarah Angkringan yang perlu diperhatikan. Sebab, kata Anklingan memiliki banyak karakter, terutama dalam hal kesederhanaan dan murahnya, menjadikannya tempat di mana kita dapat bercanda dan berbicara sepuasnya tanpa melihat strata sosial.
Angkringan sendiri berasal dari bahasa Jawa “Angkring” yang artinya alat atau tempat berjualan makanan dengan konsep pikulan berbentuk melengkung ke atas. Selain itu konsep penjualan Angkringan ini juga bisa memakai gerobak dorong hingga yang menyajikan berbagai macam makanan dan minuman di tepi jalan. Model Angkringan dari zaman dahulu bisa di pasarkan dengan cara dipikul, akan tetapi seiring perkembangan waktu Angkringan ini berubah menjadi konsep gerobak dorong. Versi lain kata angkring sendiri memiliki kosa kata Jawa “metangkling” dimana posisi duduk setiap orang makan di Angkringan terlihat santai dengan salah satu kaki di atas kursi. Dari sinilah ada konsep sederhana dan tidak melihat strata sosial masyarakat yang menyantap masakan dan makanan murah di Angkringan.
Keberadaan kedai tersebut umumnya dapat dikenali berdasarkan ciri khas pikulan ataupun gerobak yang ditaruh di pinggir jalan, lengkap dengan pencahayaan yang temaram pada malam hari. Angkringan dapat juga diidentifikasi berdasarkan pilihan panganan dan minuman yang disajikan. Selain menyuguhkan sajian minum-minuman hangat seperti teh, minuman jahe panas (wedang jahe) dan kopi, angkringan juga dilengkapi dengan berbagai penganan sederhana seperti aneka gorengan serta sate-satean (sundukan). Ciri khas menu sajian dari angkringan yang cukup populer adalah nasi bungkus yang sering disebut sebagai sego kucing. Istilah sego kucing atau nasi kucing merujuk pada porsinya yang sangat sedikit dan dilengkapi potongan kecil ikan bandeng atau teri dan tumisan tempe (oseng-oseng), sehingga menyerupai makanan yang diberikan untuk kucing. Sajian minuman serta penganan yang dapat dikatakan sederhana tersebut membuat keberadaan kedai-kedai angkringan relatif dapat dijangkau dan dinikmati oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat kelas bawah. Kesederhanaan tersebut juga menghilangkan sekat-sekat keeksklusifan dan menjadi ruang berbaur antarkalangan. Para pedagang angkringan juga mematok harga yang relatif murah untuk sajian penganan yang menggambarkan selera masyarakat kelas menengah ke bawah.
Angkringan ini memiliki filosofi penting bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap Angkringan bukan hanya tempat makan saja, tetapi dari tempat ini muncul kehangatan dan kesederhanaan di semua kedainya. Angkringan  dapat diartikan juga sebagai potret perjuangan dengan penuh kegigihan sebab merupakan lahan ekonomi khususnya bagi masyarakat kelas bawah atau wong cilik untuk mempertahankan diri di tengah perkotaan. Menu-menu di angkringan yang sederhana seolah mengajak pembeli untuk merenungkan kembali tentang kehidupan. Dalam ajaran budaya Jawa, perenungan ini dinamai sebagai ngemadne hidup (menikmati hidup) sejenak tanpa kemrungsung (tergesa-gesa). Bahkan dari filosofi Angkringan ini juga menjadi satu tempat makan dimana masyarakat bisa membaur dan tanpa memandang strata sosial semua pengunjungnya. Kesan murah, sederhana, dan menjadi tempat interaksi bagi semua masyarakat menjadikan Angkringan sebagai salah satu lokasi mencari makanan populer bahkan di semua kota saat ini sudah tersedia dengan memberi karakter lokasi dan juga fasilitas tambahannya. Konsep yang sederhana tersebut menjadikan angkringan menjadi sebuah tempat makan sambil kongkow-kongkow menghabiskan waktu malam yang cukup populer. Angkringan dapat ditemui nyaris di setiap sudut saat malam di Kota Yogya dan Solo dengan ciri khas lampu temaramnya. Kini konsep angkringan mulai dilirik para pelaku bisnis kuliner untuk mengubah angkringan yang sederhana di pinggiran jalan menjadi berkonsep kafe atau resto. Angkringan kekinian saat ini marak dan tumbuh pesat seiring dengan popularitas wisata kuliner. Kafe dengan label angkringan mereka hadirkan untuk menjangkau cakupan konsumen dari kalangan menengah ke atas.
Saat ini memang menjadi tren tersendiri mengangkat unsur-unsur tradisional, lawas, dan “merakyat” sebagai komoditas bagi kalangan menengah ke atas. Berdasar uraian di atas, dapat kita pelajari bahwa dari kedai makan sederhana seperti angkringan, dapat dilihat sebagai sebuah situs yang menangkap berbagai hal terkait perkembangan sosial dan budaya suatu masyarakat. Angkringan tidak hanya dapat dinikmati dari aspek kenangan yang bersifat nostalgia. Lebih luas, sejarah kehadiran dan perkembangan angkringan juga tidak terlepas dari konteks dinamika sejarah perkembangan dua kota di jantung tanah Jawa yaitu Solo dan Yogya. Di lain sisi, konsep angkringan menjadi sebuah spirit tersendiri terkait bagaimana bentuk eksistensi kehidupan sosial budaya masyarakat kecil dalam kehidupan kota. Semangat tersebut jugalah yang saat ini menjadikannya sebuah “komoditas” konsep dagangan baru bagi para pelakon bisnis kuliner.

 

Penulis : Andini Candraningtyas (Club Writer)

,