Rasa Yang Tak Terbalas

Rasa Yang Tak Terbalas

Rasa Yang Tak Terbalas

Gemuruh suara penonton yang berteriak hingga suara mereka serak mewarnai pentas seni sekolah SMA Tunas Angkasa sore hari ini. Sayup – sayup suara mereka terdengar hingga sampai ke belakang backstage. Guest star yang mengisi acara pun senang karena antusiasme penonton yang sangat heboh atas penampilan panggungnya. Ganindrakara Kusuma atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kara, siswa kelas 12 yang diberkahi wajah tampan, tubuh tinggi, memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, dan tegas serta berwibawa. Ia adalah ketua pelaksana pada pentas seni sekolah tahun ini. Sepanjangan acara ia sibuk mengawasi seluruh elemen yang terlibat di pentas seni kali ini. Sesekali ia membantu para panitia agar acara dapat berjalan sesuai rencana dan tidak ada hambatan hingga acara selesai.

Satu minggu setelah pentas seni sekolah, pembelajaran kembali seperti sediakala. Kara yang seperti biasa datang ke sekolah mengendarai motor kesayangannya. Belum sampai di parkiran Kara sudah ditunggu oleh kedua sahabatnya, Arman dan Fadel. Sahabat yang ia temui sejak kelas 10. Arman Irawan siswa humoris dengan kelakuan petakilannya dan Fadel Ardian siswa dengan sikap yang dingin tapi paling mengerti keadaan sahabatnya. Sebelum masuk kelas biasanya mereka akan pergi ke kantin dulu, menemani Kara untuk sarapan. Dari kejauhan ia nampak melihat sesuatu yang berbeda, seorang siswi yang sedang membeli roti di salah satu ibu kantin, siswi yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Kara pun bertanya pada Arman dan Fadel siapa siswi itu.

“Siapa siswi itu? Kenapa baru kali ini Kara melihatnya.”

“Ohhhh dia siswi kelas 10, memang jarang keluar kelas apalagi ke kantin,” jawab Fadel

“Iya benar dia itu lebih sering di kelas untuk baca buku, mungkin karena masih pagi makanya dia ke kantin,” timpa Arman

Amaira Kiera Azzahra nama dari murid yang sedang dibicarakan Kara dan kedua sahabatnya itu. Kiera panggilan akrabnya siswi bertubuh mungil dengan rambut pendeknya, pintar dan baik hati. Lebih suka menghabiskan waktu di kelas untuk membaca buku daripada bergaul dengan teman sekelasnya. Namun pembicaraan itu sentak langsung berhenti ketika bel sekolah telah berbunyi. Kara dan sahabatnya langsung bergegas menuju ruang kelas disertai dengan Kiera yang beranjak menuju ruang kelas. Banyak siswi sekolah yang jatuh cinta pada sosok Kara, namun tidak ada satupun yang berhasil untuk mendapatkannya karena Kara tidak tertarik untuk berpacaran. Semua itu terlihat berubah ketika Kara pertama kali melihat Kiera, ia merasakan ada suatu perasaan yang berbeda,

“ Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama,” tanya Kara pada dirinya sendiri.

Bel pulang sekolah pun berbunyi menandakan pelajaran hari ini telah berakhir. Kara yang berharap bisa berkenalan dengan Kiera, bergegas menuju gerbang utara sekolah untuk menemuinya dengan meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja. Arman dan Fadel yang kebingungan melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Kara yang terlihat berbeda. Benar saja mereka melihat Kara sedang duduk di pos satpam terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

” Lagi nungguin siapa sih Kar?” tanya Fadel sembari duduk dan merangkul pundak Kara.

“Lagi nunggu Kiera ya?” timpa Arman dengan nada bercanda.

” Hmmmm… enggak lagi nunggu siapa-siapa kok,” jawab Kara dengan wajah kebingungan

Karena Kara adalah sahabatnya jadi mereka langsung percaya begitu saja dan pamit pulang duluan. Fadel yang bangun dari duduknya langsung berjalan meninggalkan Kara.

” Hati-hati diculik tante-tante loh,” teriak Arman sembari berjalan bersama Fadel

Sudah hampir 20 menit menunggu tak ada tanda-tanda Kiera pulang melewati gerbang ini Sehingga Kara memutuskan untuk pulang saja tapi saat berjalan menuju parkiran ia melihat salah seorang teman sekelasnya Kiera dan langsung bertanya padanya,

” Hai Yun, Apakah Kiera sudah pulang?.”

“Eh iya kak, Kiera sudah pulang dari tadi memangnya ada apa ya kak? ” jawab Yuni

“Kakak yang sudah hampir 20 menit disini tapi tidak melihat Kiera melewati gerbang ini,”kata Kara yang kebingungan

“Oalah Kiera kan emang bisanya lewat gerbang selatan sekolah, karena lebih dekat arah rumahnya. Eh kak Yuni duluan ya sudah dijemput ayah,” balas Yuni sambil tergesa-gesa karena Ayahnya sudah menjemput

” Yasudah terimakasih ya Yun,” Ucap Kara sambil diiringi langkah kaki ke motor di parkiran.

Kara yang di sepanjang perjalan ke rumah masih penasaran untuk berkenalan langsung dengan Kiera. Keesokan harinya ia berusaha datang lebih awal untuk menemui Kiera, karena kemarin ia tahu Kiera pulang melewati gerbang selatan maka dari itu ia langsung menuju kesana untuk menunggunya, tapi setelah sampai di gerbang ia kebingungan karena pintu gerbangnya tertutup rapat. Ternyata ia lupa kalau gerbang selatan hanya dibuka saat pulang sekolah saja, saat masuk sekolah hanya gerbang utara saja yang terbuka.

Seperti biasa walau Kara datang lebih awal tapi tetap saja ia ditunggu oleh kedua sahabatnya. Setelah memarkirkan motornya Kara langsung bergegas menuju kantin berharap ia bisa bertemu dengan Kiera. Arman dan Fadel pun bingung tidak seperti biasanya ia terburu-buru ke kantin, biasanya juga mengajak mereka untuk kesana bersama. Sesampainya di kantin Arman pun bertanya pada Kara,
“Tumben banget ke kantin buru-buru biasanya juga nyantai jalannya.”

“Eh engga, ini lagi laper banget mau sarapan dulu,” jawab Kara dengan lirikan mata seperti sedang mencari seseorang.

“Bilang aja lagi nyari Kiera kan siswi yang kemarin beli roti itu, keliatan tuh dari matanya kek lagi nyari seseorang aja,”balas Arman dengan pukulan tangan ke pundak Kara

Telolet… telolet.. telolet.

Bel sekolah pun berbunyi. Bel yang terinspirasi dari suara klakson bus yang sempat viral pada tahun 2016.

“Eh udah bel tuh, ayo langsung masuk kelas aja,” ucap Kara dengan wajah yang ketakutan

Karena bel sudah berbunyi seluruh siswa yang ada di kantin pun membubarkan diri dan menuju ruang kelasnya masing masing termasuk Kara dan kedua sahabatnya. Selama pelajaran Arman memperhatikan Kara karena ada yang aneh pada Kara akhir-akhir ini.

“Itu Kara kenapa ya del,” tanya Arman pada Fadel karena rasa keponya terhadap Kara.

“Biarin aja sih, perhatiin tuh guru masih jam pelajaran juga,”balas Fadel dengan mata sinisnya.

Saat pulang sekolah Kara langsung bergerak cepat menuju gerbang selatan sekolah berharap bisa bertemu dengan Kiera. Arman dan Fadel yang penasaran akhirnya membuntuti Kara dan memantau gerak-gerik Kara dari kejauhan di balik salah satu gedung sekolah. Pandangan Kara yang tengah melihat seluruh orang yang melewati gerbang tapi ia tidak melihat Kiera melewati gerbang ini.

“Apa iya kiera pulang lewat gerbang utara sekolah?” suara hati Kara berbicara

Kara langsung bergerak secepat kilat melalui lorong gedung sekolah menuju gerbang utara. Ia pun langsung bertanya satpam sesampainya di sana.

“Permisi Pak, apakah melihat Kiera sudah pulang melewati gerbang ini?” tanya Kara dengan nafas ngos-ngosan.

“Eh Kara, bapak tidak melihatnya dari tadi disini,” ucap Pak Heri Satpam sekolah sembari mengatur kepulangan anak-anak.

Saat Kara sedang mengobrol dengan Pak Heri. Ia tidak sengaja melihat kembali Yuni yang sedang berjalan bersama temannya. Kara yang penasaran langsung bertanya pada Yuni,

“Eh yun, lihat Kiera tidak? Dari pagi dia tidak kelihatan sampai sekarang pulang sekolah,”

“Eiya kak, hari ini Kiera tidak masuk sekolah kara ia izin sakit. Katanya sih dirawat di
rumah sakit,” balas Yuni sambil di tarik temannya untuk cepetan ngobrolnya

“Oh gitu ya, boleh minta kontak Kiera tidak?”kata Kara sembari memberikan
handphonenya ke Yuni

“Boleh kak,” ucap Yuni sambil mengetik nomor Kiera di handphone Kak Kara.

“Makasih yah Yun,” kata Kara dengan wajah gembira.

“Sama-sama kak, Yuni duluan ya kak,”ucap Yuni diiringi langkah kaki meninggalkan
Kara.

Kara yang langsung beranjak pulang dengan motor kesayangannya. Sesampainya di
rumah Kara langsung masuk dan menutup pintu kamarnya. Ia langsung membuka handphonenya lalu menelpon Kiera berharap ia bisa mengobrol dengannya. Tapi harapan itu sirna ketika teleponnya tidak kunjung diangkat oleh Kiera. Dari sini ia berpikir apakah ini akhir dari perjalanan cintanya atau hanya sebatas ujian untuknya.

Keesokan harinya saat di kelas Kara terlihat dengan wajah murung, dan seketika
menjadi orang yang pendiam bahkan saat jam pelajaran ia melamun entah sedang memikirkan apa. Ibu guru yang sedang membahas soal latihan lalu menunjuk Kara untuk membantu menjawab. Tapi Kara tidak meresponnya. Fadel yang duduk semeja dengan Kara berusaha untuk menyadarkan karena bu guru dari tadi telah memanggil dirinya.

“Kara… Karaaa dipanggil tuh ama bu guru disuruh jelasin, “kata Fadel sambil
menggoyangkan pundak Kara.

“Arghhhh,” sahut Kara dengan kencang sambil menggebrak meja hingga membuat
seluruh teman sekelasnya menoleh ke arahnya.

“Kamu kenapa Kara? Kenapa sampai menggebrak meja itu?”ucap bu guru sambil
mendekati Kara.

“Maaf bu karena kaget jadinya reflek menggebrak meja deh,”kata kara dengan wajah
yang malu usai perbuatannya.

“Yasudah perhatikan pelajaran saat ini,”ucap bu guru di iringi langkah kaki
meninggalkan Kara.

Karena kara sedang tidak fokus akhirnya bu guru menunjuk siswa lain untuk maju kedepan mengerjakan soal di papan tulis. Fadel yang kaget atas respon yang ia terima, langsung bertanya yang sebenarnya terjadi pada kara,

“Lagi ada masalah apa kar?”kata fadel sembari menenangkannya atas kejadian itu.

“Iya nih lagi ada masalah, sebenarnya dari kemarin tuh kara lagi nyariin kiera cuman ga ketemu-ketemu, hingga kemarin sudah dapat kontaknya berusaha untuk menghubunginya tapi tidak ada jawaban sama sekali,”sahut kara dengan wajah yang sedih.

“Bener kan lagi nyari in kiera,” sambung arman

Fadel dan Arman yang berusaha untuk menghibur kara akhirnya mengajaknya ke kantin. Secara tidak langsung ternyata di kantin Arman tidak sengaja melihat Kiera sedang jajan bersama temannya. Ia pun langsung memberitahu Kara bahwa ada Kiera di kantin, tapi Kara tidak meresponnya sama sekali. Kara yang merasa sudah tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan hati kiera.

Pada suatu malam tanpa ada angin dan hujan tiba tiba handphone kara berdering saat dilihat ternyata yang menelponnya adalah Kiera. Ia yang sumringah langsung saja mengangkatnya dan berbicara padanya. Ternyata Kiera ingin meminta maaf karena saat itu tidak mengangkat teleponnya karena saat itu handphonenya tertinggal di rumah dalam keadaan low battery. Saat ia ingin menghubunginya balik ia bingung karena banyak nomor yang belum ia save. Akhirnya ia bisa menghubungi karena akhir akhir ini Kiera sering mendengar nama Kara akibat teman sekelasnya Yuni memberitahu bahwa Kara siswa kelas 12 mencarinya selama dua hari berturut turut.

Setelah kejadian itu Kara dan Kiera semakin dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sebelum perpisahan kelulusan Kara bertanya pada kiera apakah ia bersedia untuk datang di acara perpisahan kelulusannya. Kiera langsung menjawab iya dia akan datang pada momen itu dan membawakannya bunga. Benar saja saat perpisahan kelulusan kelas 12 berlangsung dia datang membawakan bunga yang indah dan cantik sekali. Kara yang semakin yakin bahwa rasa yang ia taruh pada kiera akan terbalas, karena selama ini kiera masih belum membalas cintanya.

Satu bulan berselang setelah perpisahan kelulusan. Kara berniat untuk menjemput Kiera dan mengantarkannya ke sekolah. Ia memang sengaja tidak mengabarinya terlebih dahulu agar terkesan surprise untuknya. Sepanjang perjalanan Kara berusaha merangkai suatu rayuan untuknya agar rasanya dapat terbalas. Belum sampai di rumah Kiera, ia sudah bisa melihat dari kejauhan Kiera sudah berada di depan rumahnya. Ia semakin yakin bahwa kata hati kecilnya jika hari itu rasanya akan terbalas. Sesampainya di depan rumah Kiera, Kara langsung menyapanya, menyapa dirinya bercanda tawa dengan dirinya, namun apa yang dirasa Kara tak kuasa, Kara tak tau harus berkata apa
INIKAH NAMANYA CINTA
OH INIKAH CINTA
CINTA PADA JUMPA PERTAMA
(Me – Inikah Cinta)

Belum sempat Kara mengeluarkan rayuannya tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor mendekat ke arah rumah Kiera. Saat suara motor semakin dekat, Kiera pun terlihat seperti memanggil pengendara motor itu. Ketika sampai si pengendara langsung memberikan helm pada Kiera. Kara yang melihat itu berpikir mungkin saja ojol yang lagi tidak make seragam. Tapi dengan mudahnya Kiera berkata bahwa pengendara motor itu adalah pacarnya, yang sudah hampir 3 bulan jadian. Kara yang mendengar itu langsung dari mulut Kiera seketika kaget dan tidak percaya. Hati kecilnya hancur bagai kaca yang terjatuh ke lantai dari ketinggian hingga porak poranda. Tapi Kara berusaha untuk tidak terlihat sedih di hadapan mereka. Terlintas di pikiran Kara, berarti ketika perpisahan Kiera sudah ada yang memiliki, tapi Kiera tetap menyempatkan hadir di acara itu.

“Apa yang membuat Kiera tetap hadir di acara perpisahan kelulusan walau sudah ada seseorang di hatinya,”tanya Kara pada Kiera dengan hati yang sedang kacau

“Karena Kiera sudah berjanji untuk bisa hadir di perpisahan Kara,”ucap Kiera tanpa ada rasa bersalah.

Atas jawaban itu hati kara benar-benar hancur lebur. Sebelum ia izin pamit untuk pergi, ia terlebih dulu telah di tinggalkan mereka berdua.

Kara yang sedang dalam keadaan patah hati memutuskan untuk menenangkan pikirannya dengan menyendiri di taman dekat rumahnya. Saat sedang menangisi keadaan yang sangat pahit, tiba tiba ada uluran tangan yang tengah memegang sapu tangan muncul di depan wajah kara. Kara yang langsung melihat itu segera mengambilnya. Ia terlihat gembira karena ia berpikir apakah ini malaikat yang tuhan kirim untuknya. Rasa sedih kara mulai hilang karena kehadiran sosok perempuan di hadapannya. Harapan untuk rasa yang terbalas mulai muncul kembali pada pandangan pertama. Rasanya Kara langsung ingin memeluknya, namun belum sempat memeluknya dari kejauhan terdengar teriakan bunda dari anak kecil laki laki yang tertuju pada perempuan di hadapan kara yang diikuti laki-laki dewasa di belakangnya. Sontak kara langsung menoleh kearah itu dan berpikir mungkin salah orang. Tapi apa daya perempuan itu membalas teriakan anak tersebut. Harapan yang kembali muncul seketika mulai redup kembali, atau mungkin sudah hilang ditelan bumi. Kara yang tau perempuan itu sudah berkeluarga memutuskan untuk meninggalkan nya dan kembali kerumah.

Saat di kamar Kara terus merenung apa ini karma dari sikap perilaku selama ini karena menolak semua siswi yang suka padanya. Hingga ketika Kara menyimpan suatu rasa pada seseorang rasa itu tak pernah terbalas. Akhirnya Kara memutuskan untuk bunuh diri loncat dari jendela kamarnya. Tapi takdir berkata lain, tuhan masih sayang sama Kara hingga ia masih di beri kesehatan. Karena rumah kara hanya berlantai satu.

~ TAMAT ~

,